Benarkah Bayi Bisa Memahami Perkataan Orang Dewasa?

Photo via shutterstock.com

Pernahkah Bubu bertanya-tanya mengapa orang tua perlu sering membacakan buku, bercerita, atau mengajak bayi bicara? Padahal, bayi kan belum bisa bicara dan merespon ucapan kita ya. Memangnya, bayi paham apa yang kita maksud?

Penelitian dari Bergelson & Swingley (2012) menunjukkan bahwa ternyata bayi memahami lebih banyak dari apa yang orang dewasa perkirakan lho, Bubu. Dari lahir, bayi tertarik mendengar suara-suara di sekitarnya, terlebih suara ibunya. Mulai sekitar usia 2 bulan, bayi dapat menangkap nada suara dan menunjukkan respon yang berbeda. Walau belum mengerti makna dari kata-kata, bayi dapat menggunakan nada suara Bubu sebagai sumber informasi untuk memahami apa yang ingin Bubu sampaikan, dan mendorongnya untuk berperilaku tertentu.

Bayi juga dapat menangis ketika Bubu membentaknya (misalnya ketika Bubu mengatakan “Jangan makan bolanya!”), dan dapat tenang kembali ketika Bubu berbicara padanya dengan suara yang lembut. Bayi juga akan cenderung untuk coba meraih dan mengeksplorasi suatu mainan ketika mendengar nada suara yang positif daripada negatif (Fernald dkk, 1989; Jusczyk & Aslin, 1995).

Kemampuan bayi memahami kata-kata memang berkembang lebih dahulu daripada kemampuan bicaranya. Misalnya, ketika Bubu bilang, “Ruangannya gelap ya, yuk nyalakan lampu” lalu ia menolehkan kepalanya ke arah lampu, itu menunjukkan bahwa ia paham arti kata lampu. Begitu pula ketika Bubu menawari makan dan ia merangkak ke kursi makannya, menunjukkan bahwa si Kecil mengaitkan antara kata “makan” yang ia dengar dengan “kursi makan.”

Photo via shutterstock.com

Ketika bayi sudah mengenali namanya (biasanya sekitar usia 5-7 bulan), ia juga mulai dapat menyadari bahwa dirinya sedang dibicarakan, karena itu dapat menoleh dan lebih memperhatikan percakapan yang terjadi ketika mendengar dirinya disebut. Dari nada suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh, bayi kemudian akan belajar membedakan apakah pembicaraan itu bersifat positif atau negatif.

Sekitar usia 1,5 – 2 tahun ketika pemahaman bahasanya semakin berkembang dan kosa katanya semakin kaya, si Kecil bukan hanya tahu bahwa dirinya sedang menjadi pusat omongan, namun juga dapat menangkap apa isi omongan Bubu. Ketika Bubu bercerita pada Pak Suami misalnya, “Haduhhhh..hari ini bolak balik Nana isi gelas di dispenser lalu sengaja numpahin airnya” – ia bukan hanya akan menangkap kata “Nana”, “gelas”, “dispenser”, “tumpah”, dan “air”, tetapi mulai bisa menyadari bahwa Bubu tidak suka dan perilakunya itu kurang baik.

Nah, jika bayi bisa memahami perkataan orang dewasa bahkan sebelum mampu bicara, apa ya yang sebaiknya Bubu lakukan? Berikut beberapa tipsnya:

1. Gunakan “baby talk”

Baby talk disini bukan berarti mengubah bunyi kata ya Bubu (misalnya susu jadi cucu atau minum jadi mimi), tetapi berbicara pada bayi dengan pitch yang lebih tinggi, variasi nada tinggi dan rendah yang lebih jelas, mimik wajah yang lebih ekpresif, serta tempo bicara yang lebih lambat dengan penekanan pada kata-kata tertentu. Bayi lebih suka dan lebih atentif ketika mendengar orang dewasa berbicara seperti ini (Schachner & Hannon, 2011). Menurut Kalashnikova et al. (2017), baby talk juga lebih memudahkan bayi untuk membedakan suara percakapan dari berbagai suara lainnya, mengetahui batas antar kata, dipersepsikan lebih tidak agresif serta dapat menstimulasi perkembangan otak bayi yang berkaitan dengan bahasa (Zaigal & Mills, 2007)

2. Libatkan bayi dalam percakapan sehari-hari

Bayi bukanlah pendengar yang pasif, sehingga akan lebih mendukung tumbuh kembangnya bila Bubu melibatkannya secara aktif dalam percakapan sehari-hari. Narasikan berbagai hal yang Bubu lihat, tunjuk benda yang sedang Bubu bicarakan sehingga si Kecil dapat belajar makna katanya dan kenalkan berbagai konsep dengan menggunakan bendanya secara langsung. Anggap bayi sebagai partner bicara yang setara, meskipun tampaknya belum mengerti apa-apa. Respon juga bunyi dan suara yang si Kecil coba ucapkan sebagai kata-kata. Saat Bubu ingin menceritakan pada Pak Suami prakarya yang dibuat bersama hari ini, libatkan si Kecil, misalnya: “Kak, mana coba tadi gambar yang kita buat? Ambil dan tunjukkan ke ayah yuk!”

3. Upayakan tidak membicarakan bayi di depannya

Setelah mengetahui bahwa bayi memahami lebih banyak daripada yang ditunjukkannya, Bubu harus lebih berhati-hati ya saat bicara di depan si Kecil. Bisa jadi si Kecil tengah menyerap dan mengingat kata-kata Bubu lho, dan akan menirukannya ketika sudah mampu berbicara. Terlebih jika Bubu sedang membicarakan dirinya, hindari melakukan itu di dekatnya karena bisa menjadi label yang melekat. Ketika dirinya sering mendengar ucapan “Iya nih, dia memang pemalu/nakal/cengeng”, maka ucapan tersebut dapat berkembang menjadi identitas dirinya saat dia sudah mengerti apa arti dari kata tersebut.

4. Berikan penjelasan ke anak saat menghadapi perubahan atau situasi baru

Beberapa bayi membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan dan situasi baru. Bubu bisa membuat si Kecil lebih nyaman dengan memberikan penjelasan sebelumnya, misal: “Besok ada Eyang datang ke rumah, nanti adik kenalan ya. Besok kalau belum mau salim tidak apa kok, dadah dulu aja ya…” atau “Hari ini kita mau berenang, tapi ternyata hujan. Kita main boneka dulu yuk di rumah.” Mungkin aneh rasanya memberikan briefing ke bayi, tapi percayalah kalau hal ini penting dan akan bermanfaat baginya. Jadi, jangan sampai mengabaikan kebutuhannya ya, karena kita merasa sang bayi tidak akan mengerti.

Selamat berinteraksi dan mengobrol dengan si Kecil ya Bubu!

Nadine

Hi, my name is Nadine, a fashion stylist who loves makeup too! My routines are reading a bunch of information about fashion, lifestyle, and entertainment. Before that, I have another habit such as jogging, yoga, and sipping a glass full of smoothies every single morning. I like to hang out with my besties after work, enjoying a cup of green tea while discussing everything.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY