CEO Blibli Kusumo Martanto tentang Transformasi Bisnis Selama dan Setelah Pandemi

UNPAR_Transformasi Bisnis Online

Jakarta, 22 Mei 2020 – Physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah membatasi pergerakan masyarakat, sehingga mengubah behavior mereka. Masyarakat terpicu untuk semakin mengandalkan teknologi dalam melakukan semua aktifitas, mulai dari bekerja hingga berbelanja. Demikian paparan CEO Blibli Kusumo Martanto dalam live discussion tentang “Transformasi Bisnis Selama dan Setelah Pandemi” oleh Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) dan FISIP UNPAR pada Kamis (21/5).

“Bagi pelanggan, keterbatasan gerak ke luar rumah mendorong mereka untuk berbelanja online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka pun merasakan benefit berbelanja online, termasuk pilihan produk luas, pengiriman gratis, pengiriman cepat, dan opsi pembayaran luas,” kata Kusumo. Pengiriman cepat, sambung Kusumo, sangat berguna khususnya untuk pengiriman makanan segar, seperti daging dan sayuran, dari kategori groceries BlibliMart.

Lebih lanjut, Kusumo juga mengungkapkan pandemi saat ini menjadi masa panen bagi UMKM karena pelanggan yang WFH akan browsing dan coba-coba beli produk lokal

Audience live Zoom yang terdiri dari alumni dan mahasiswa UNPAR. Panitia sudah menyiapkan 500 slot untuk audience, yang mayoritas sudah terisi.

Kusumo pun membagi tips sukses berjualan online. “Nomor satu adalah kualitas. Lalu pengusaha harus tahu arah pasar,” katanya. “Dan pengusaha juga harus inovatif dan ini untuk pengusaha dengan semua skala usaha. Salah satu contohnya Cahaya Naturals yang membuat hand sanitizer. Selain itu, kami juga berikan PayLater untuk bantu konsumen berbelanja.”

Dengan adanya akselerasi adopsi teknologi oleh pelanggan dan seller, semakin terlihat critical role e-commerce dalam menopang industri ritel, dengan demikian ekonomi bangsa di tengah tantangan COVID-19.

“Apabila dulu e-commerce dilihat sebagai sebuah supplementary channel bagi offline. Selama COVID-19, e-commerce berubah menjadi primary channel bagi pelanggan dan seller untuk bertransaksi. Karena disinilah demand dan supply akhirnya bertemu sehingga membuat downspiraling effect tidak berlanjut atau malah berhenti,” ujar Kusumo. “Mengingat bahwa ritel berkontribusi 10,4% ke PDB Indonesia, maka peran yang dimainkan e-commerce selama COVID-19 menunjukkan kemampuan e-commerce dalam menopang aktifitas ritel, dengan demikian mendorong ekonomi Indonesia walau di tengah pandemi.”

Selain Kusumo Martanto, pembicara lainnya yaitu Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi. (*)