Profil Usaha Para Pejuang Lokal: Jalan Sociopreneur Pelaku Usaha UMKM

Gambar 2_Bersama E-Commerce Bersatu untuk Para Pejuang Lokal

Jakarta, 14 Agustus 2020 –  

 Lia Amalia (Lia), Founder MUSHI JAMUR CRISPY

Produsen cemilan jamur tiram crispy yang memberdayakan petani jamur

Tempat, tanggal lahir: Cirebon, 3 Februari 1967

Link produk: Blibli.com/mushi

 

Sebagai petani budidaya jamur tiram, Lia sering terkendala pemasaran hasil panen terutama saat panen raya serta menjelang dan sesudah hari raya Idul Fitri. Masyarakat saat itu tidak mencari jamur tiram, akibatnya hasil panen pun terbengkalai tak laku.

Lia pun putar otak mengolah jamur tiram segar bersama tepung, aneka bumbu, yang diperkuat kaldu jamur sebagai perisa rasa pengganti MSG menjadi jamur crispy.

Hasil olahan dipasarkan ke anak-anak sekolah dan juga di warung sekitar. Upayanya membuahkan hasil positif. Jamur crispy meraih banyak peminat sehingga bisa membantu sesama petani dan ikut melestarikan lingkungan melalui pemanfaatan limbah serbuk gergaji   sebagai media tanam jamur (backflow).

Semakin lama Lia pun mengenal konsep branding dan pengemasan sebagai unsur daya tarik jualan. Bungkusan plastik kemudian diganti menjadi standing pouch standar dan kemudian menjadi standing pouch berlapis aluminium foil.  Dari merek “Citra Rasa Utama” kemudian beralih menjadi Mushi (yang merupakan singkatan dari Mushroom Indonesia) sampai sekarang.

Pada awalnya Lia menjadi petani budidaya jamur tiram selama empat tahun, kemudian beralih menjadi pengusaha jamur crispy pada 2018. Pada tahun tersebut pula dirinya masuk menjadi seller di Blibli.  “Pada saat itu saya mendapat undangan pelatihan wirausaha dengan narasumber Blibli. Dalam hati memang ingin jualan online dan di sela waktu istirahat saya menyapa pihak Blibli menanyakan apakah produk saya bisa dijual secara online,” ujarnya mengenang.

Gayung pun bersambut dan sejak itu hingga sekarang Lia hanya memasarkan Mushi Jamur Crispy di platform e-commerce Blibli. “Saya kan orangtua gaptek. Tidak paham sama sekali. Namun tim Galeri Indonesia dari Blibli membimbing saya bagaimana menangani transaksi pemesanan, melakukan pemasaran online, dibantu mengikuti promo flash sale. Jadi, kalau tidak paham saya tidak segan bertanya dan mendapat respon positif,” ujarnya.

 

Kisah inspiratif dan Tips Berjualan Online dari Lia Amalia:

  1. Platform e-commerce memberi kontribusi terhadap penjualan. Pada saat pandemi corona (COVID-19) merebak, Mushi Jamur Crispy tidak mendapat pesanan (order) dari pasar ritel offline, namun mengalami peningkatan order sebanyak 2x lipat dari penjualan online di Blibli selama periode Maret hingga Juni lalu.
  2. Bergabung bersama Blibli membuat pelaku usaha merasakan promo-promo menarik yang memberi impact terhadap penjualan produknya. Misalkan saja promo flash sale yang memberi lonjakan signifikan jumlah order pesanan, sementara program harga grosir memberikan kemudahan bagi para pelanggan dan reseller memesan dalam jumlah besar (sebagai info, tersedia 1 dus berisi 30 bungkus Mushi Jamur Crispy) dengan subsidi biaya ongkir dari Blibli, sehingga dapat menekan ongkos kirim.
  3. Berjualan online sebagai rangkaian proses mempersiapkan produk UMKM masuk ke pasar ekspor. Saat ini, Mushi Jamur Crispy sudah menembus pasar Singapura, Australia dan Jepang. Namun keberhasilan ini merupakan buah dari perjalanan panjang sejak Lia memutuskan bergerak di budidaya jamur tiram pada 2014 silam.
    1. Pertama dan utama adalah perhatikan kualitas produk yang dijual. Produk jamur kering yang dihasilkan telah memenuhi standar bahan pangan kering, dengan kandungan protein nabati tinggi, dan produk tanpa bahan pengawet dengan jangka waktu expired
    2. Kedua, siapkan legalitas produk misalkan Izin Produk Industri Rumah Tangga (P-IRT) dan sertifikasi halal.
    3. Percantik desain kemasan. Selain itu, label kemasan bilingual (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) memenuhi kemasan produk ekspor.
  4. Membuka lapangan kerja dan memajukan tingkat perekonomian masyarakat sekitar. Ibu Lia kini memiliki 7 orang pegawai tetap yang dibayar sesuai standar UMR Cirebon. Selain itu, telah memiliki petani binaan, memberikan pekerjaan borongan backflow kepada para ibu rumah tangga, dan dirinya kini memiliki empat rumah kumbung masing-masing berkapasitas 20-35 log.

Lia dalam menjalankan usahanya terinspirasi oleh Nabi Muhammad SAW yang merupakan seorang pedagang ulung. Selain itu ungkapan “Berusaha dan Berdoa” menjadi kalimat motivasinya. Perempuan berusia 53 tahun ini masih menyimpan keinginan suatu hari nanti mampu melakukan pembaruan alat demi kemajuan Mushi Mushroom Crispy, karena hingga saat ini modal masih difokuskan menjadi biaya produksi.

 

(***)
Firman Setyaji (Firman) Founder BENGOK CRAFT

Mengedepankan produk yang eco-friendly berbahan eceng gondok

Tempat, Tanggal Lahir: Kab. Semarang, 24 Desember 1990

Link produk: Blibli.com/bengokcraft

 

Bak pepatah bahwa nama adalah doa, demikian pula merek Bengok Craft. Mengutip nama lokal ‘bengok’ adalah ‘eceng gondok’ dan bahasa Inggris ‘Craft’ berarti ‘kreasi’. Maka nama brand ini ibarat perwujudan mimpi Firman untuk membangun sentral kerajinan yang dapat bermanfaat bagi banyak orang serta membawa produk ke pasar gobal.

Bengok Craft merupakan usaha berbasis pemberdayaan masyarakat yang mengolah eceng gondok menjadi aneka kerajinan. Firman membuka usaha kerajinan bagi warga sekitar workshop-nya yang berada di daerah Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah sebagai ruang asah potensi kreatifnya. Mulai dari bagian produksi, pemasaran dan bagian pekerjaan lainnya yang berujung dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di wilayah tersebut.

Firman memulai usahanya pada awal tahun 2019 dan secara offline dulu. Menurut Firman, pada tahun-tahun pertama, Bengok Craft fokus pada produksi dan peningkatan kapasitas produksi termasuk merekrut pengrajin. Dan setelah kapasitas produksinya meningkat dan market sudah mulai terbentuk, baru masuk ke online. “Saat itu juga cuma main di sosial media, Instagram, belum main ke platform online. Dari pengalaman memanfaatkan Instagram atau via WhatsApp, setelah dirasa cukup mumpuni dan stok sudah mulai ada, baru berani ke platform online. Karena sebelumnya proses produksi masih terbatas, namun semakin banyak orang yang bergabung menjadi pengrajin, maka kapasitas produksi kamipun meningkat. Sehingga harus diperhatikan pasar yang lebih luas dari produksi tersebut,” jelas Firman mengenang.

Meskipun masih baru lahir, Firman membawa Bengok Craft mendaftarkan diri di ajang Blibli Big Start Indonesia (BBSI) 2019. Kompetisi BBSI adalah ajang kompetisi creativepreneur tahunan yang digagas Blibli untuk mengajak UMKM naik kelas. Tak disangka Bengok Craft masuk ke dalam 100 besar. “Padahal waktu itu belum berani buka toko di platform online karena belum pede dari sisi kapasitas produksinya, namun ikut kompetisinya,” ujar Firman. “Dari mengikuti kompetisi, akhirnya kepikiran mau buka di platform online, salah satunya di Blibli.  Setelah bergabung dengan Blibli, saya sangat dibantu oleh tim Blibli yang memudahkan saya dalam mengelola bisnis secara online. Tim Galeri Indonesia Blibli selalu mendampingi dan berkomunikasi tanpa henti. Jadi saya merasakan manfaat bergabung bersama platform e-commerce untuk berjualan online karena ada pendampingan dan dukungan promosi juga. Tidak lama setelah kami berjualan di Blibli langsung menunjukkan hasil. Harapannya kedepannya trafik pemesanan produk dapat terus meningkat.”

Kisah Inspiratif dan Tips Berjualan Online dari Firman:

  1. Selain kontribusi penjualan, awareness atau pengenalan produk menjadi keuntungan bergabung dengan e-commerce yang dirasakan oleh Bengok Craft. Karena saat mengetik kata pencarian eceng gondok atau Bengok Craft maka akan muncul di pencarian di e-commerce tersebut. Jadi ada keuntungan membangun network pelanggan melalui platform digital.
  2. Selain itu, e-commerce juga secara berkala menggelar program spesial dan promo diskon yang menjadi satu rangkaian. Hal ini mempermudah pelaku UMKM ikut menyebarkan konten via WhatsApp blast atau media sosial.
  3. Jadikan e-commerce sebagai tempat belajar untuk menggapai pasar ekspor. Mimpi Firman selanjutnya adalah ingin membawa Bengok Craft sebagai produk lokal yang merambah pasar global nantinya. Firman menargetkan pada tahun ketiga Bengok Craft bisa melakukan ekspor dan berharap melalui fasilitas e-commerce seperti Blibli dapat mendukung dari sisi pelanggan dan pengiriman barang, sementara pelaku UMKM pun harus proaktif mencari informasi program pemerintah untuk ekspor.

Harapan ke depan: ingin membawa Bengok Craft menembus pasar ekspor.

 

(***)

Nancy Valency (Nancy) – Founder GESYAL

Pelaku UMKM yang juga membina penyandang difabel

Tempat, Tanggal Lahir: Malang, 10 Juni 1974

Link produk: Blibli.com/gesyal

 

Nancy mendirikan Gesyal pada 2018, seusai Ibunda meninggal dunia dan di saat yang sama usaha yang dirintis bersama saudara pun ikutan tutup. Nancy tertarik di bidang fesyen dan sangat menggemari aksesoris pakaian berupa syal, scarf dan gelang. Produk pertama yang dibuat pun merupakan produk favorit dari perempuan berdomisili di Malang ini yaitu gelang dan syal yang menginsiprasinya membuat nama brand “Gesyal”. Yang artinya “Gelang dan Syal”.

Awalnya Nancy memulai bisnis secara offline, masuk ke department store, baru kemudian masuk ke ranah online karena dirinya menyadari di era digitalisasi, maka mau tidak mau, seorang pelaku usaha harus siap memperluas usaha ke dunia online.

Nancy memilih Blibli untuk masuk pertama kali ke platform e-commerce. “Awalnya saya diperkenalkan oleh teman saya yang juga buka toko di Blibli, dan akhirnya saya ikutan join dan hasilnya memuaskan.”

Menurut Nancy, kelebihan Blibli pada pelayanan Seller Care yang dikhususkan menjembatani antara seller dan platform Blibli. “Rekan-rekan Galeri Indonesia di Blibli memberi respon cepat dan mudah dijangkau jika ada kendala. Proses tidak berlapis, sehingga kalau ada kendala bisa langsung diatasi saat itu juga. Blibli sangat mengedepankan orang ke orang, saya merasa sangat dihargai karena service yang seperti itu.”

Dalam menjalankan usaha, Nancy memberi peluang kerja bagi penyandang difabel yang membantu Nancy di bagian finishing dari pengerjaan syal, aksesori kalung dan gelang.

Kisah Inspiratif dan Tips Berjualan Online dari Nancy:

  1. Mulai bisnis dari hobi dan passion. Nancy memiliki ketertarikan terhadap dunia fesyen, sehingga mencari jenis usaha yang terkait dengan minat tersebut.
  2. Omnichannel. Di dunia yang sekarang serba digital, berjualan via online menjadi keharusan namun toko offline tidak ditinggalkan.
  3. Optimisme dan selalu melihat hal positif. Bagi Nancy, dunia online membuka banyak kesempatan, sedangkan pandemi corona (COVID-19) mendorong inovasi baru atau produk baru. Sebagai contoh, Gesyal meluncurkan Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker kain, dan topi dilengkapi face shield yang sebelumnya tak pernah Gesyal buat.

Harapan ke depan: ingin produk semakin dikenal masyarakat lebih luas lagi, bahkan hingga ekspor.

 

(***)