poster teater ibu

 

Siapa yang tidak tahu mengenai eksistensi living legend ini di dunia panggung? Teater Koma merupakan salah satu grup teater tertua yang ada di Indonesia. Oke..mungkin kalau ada yang belum tahu apa Teater Koma itu, saya akan beri sedikit info disini. Teater Koma berdiri pada tanggal 1 maret 1977. Pentas pertamanya Rumah Kertas diadakan di teater tertutup TIM pada tahun 1977. Semenjak itu Teater Koma telah menggelar 118 pertunjukan hingga kini. Nano Riantiarno adalah salah satu pendiri Teater Koma dari 12 anggota pendirinya. Nano Riantiarno adalah salah satu murid Teguh Karya.

Mungkin untuk generasi anak muda sekarang lebih mengenal pertunjukan mereka dari tahun 2009 lalu. Seperti Republik Petruk, Sampek Engtay, dan Sin Jie Kwie. Grup teater ini cukup aktif untuk sebuah perkumpulan teater. Tidak banyak yang dapat survive selama ini dan masih menyuguhkan karya-karya yang spektakuler. Teater Koma dikenal dengan tata panggung yang megah. Set panggung yang sangat detail dan dipikir matang penataanya seperti apa yang saya lihat di Sin Jie Kwie Di Negeri Sihir. Belum lagi cerita-cerita mereka yang sangat menarik. Jenjang waktu pertunjukan juga tentatif, bisa sampai 2 hingga 4 jam. Dengan tiket yang terbilang murah, pertunjukan teater Koma is worth the money.

Dengan tujuan semata ingin membuat karya anak bangsa, Teater Koma akan terus berkarya, dan kali ini mereka kembali mempersembahkan cerita yang tak biasa. Bukan dari negeri Cina lagi, namun cerita mengenai perang dan seorang ibu yang sedang berjuang untuk hidup.

Bertajuk Ibu, mengambil setting perang abad ke-17 diantara dua adikuasa negara yang memiliki bendera matahari hitam dan matahari putih. Tanpa terkecuali semua menjadi korban perang. Ada seorang ibu yang menentang menjadi korban, menolak untuk menjadi lemah tak berdaya. Ia bersama kedua putranya melintasi medan perang dengan berdagang bersama gerobaknya. Ibu tidak mau melihat ini sebagai malapetaka namun peluang bisnis atau peluang untuk hidup. Ibu yang mau mengambil untung dari perang, dan siapa saja bisa membeli barang dagangan ibu. Namun apakah di hari akhir terlihat siapa yang akan benar-benar beruntung?

Sekali lagi saya tertarik untuk melihat pertunjukan arahan N. Riantiarno ini. Pentas ini diangkat dari karya Bertolt Berch dan kemudian diadaptasi oleh Teater Koma. Pertunjukan ini akan diadakan di Graha Bakti Budaya TIM pada tanggal 1 sampai dengan 17 November. Adapula pentas ini didukung pemain seperti Sari Madjid sebagai Ibu Brani. Tertarik? Kamu tinggal pesan tiket secara online di Blibli dan nikmati pertunjukan baru ini. Ada yang mau nonton bersama saya?


NO COMMENTS

LEAVE A REPLY