Indonesia akhir-akhir ini selalu diterpa isu jumlah kasus penculikan dan kekerasan terhadap anak yang meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), di tahun 2012 saja terjadi peningkatan penculikan, sebanyak 61 kasus.

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengatakan, jumlah penculikan yang terjadi di tahun 2011 ialah, sekitar 121 kasus. Pada 2012 angkanya meningkat, menjadi 182 kasus. Yang mengejutkan, angka tersebut, ternyata bukanlah jumlah lingkup penculikan anak dalam skala Nasional.

”Kira-kira sebanyak itulah dan ini jumlahnya mungkin baru hanya di Jabodetabek,” tutur Arist seperti dilansir Republika Online.

2317473hilang780x390

Sempat mereda pada 2014, Tahun ini penculikan dan kekerasan terhadap anak kembali mencuat ke permukaan. Masih teringat kejadian di Denpasar, Bali yang menimpa Engeline pada Juni lalu. Kasus skala Nasional yang seketika membuat semua orang tua di Indonesia khawatir akan keselamatan dan perkembangan anaknya.

Semua setuju jika hal tersebut bukanlah hal yang termasuk “aji mumpung” yang dapat menguap saja tanpa ada kelanjutannya. Karena menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI, dalam tiga tahun terakhir ini setidaknya tercatat ada 45 kasus kekerasan yang menimpa anak dibawah umur.

Lalu, sebenarnya, apa ya motif para penculik dan pelaku kekerasan terhadap anak yang akhir-akhir ini kembali marak di Indonesia?

420457_620

Menurut data dari Polda Metro Jaya, motif paling banyak adalah ekonomi. Seperti yang dilansir oleh idntimes, pelaku akan menculik anak, kemudian meminta tebusan kepada orang tua mereka sebagai syarta supaya anak mereka kembali. Sementara motif lainnya adalah adopsi illegal, eksploitasi ekonomi dan eksploitasi seksual.

Lalu pertanyaan selanjutnya, siapakah korban yang paling riskan dalam kasus kali ini?

Psikolog Astrid Wen melalui Liputan6.com menyatakan bahwa anak-anak di bawah usia delapan tahun adalah yang paling riskan menjadi korban. Karena, mereka belum bisa mengambil keputusan maupun berpikir bahwa dirinya berada dalam keadaan bahaya.

“Karena itu, walau sudah diajari oleh orang tua, mereka masih akan sulit mencerna apa yang terjadi di sekitar mereka. Nah, di saat inilah orang tua wajib menjaga anaknya dengan baik,” ungkap Astrid.

Selain itu, orang tua juga harus memperhatikan perkembangan anaknya dan menceritakan tentang bahayanya orang asing. Karena seperti yang banyak diketahui, anak kecil senang sekali mendengar cerita.

Namun sayangnya, bagi orang tua yang harus bekerja setiap hari seringkali menemui kendala untuk bisa bercerita dan memperhatikan perkembangan si buah hati. Alhasil, sang orang tua pun hanya bisa menitipkan anaknya dan berkomunikasi dengan orang yang menjaga sang buah hati.

Well, beruntung saat ini jaman sudah semakin maju. Teknologi semakin berkembang dan inovasi terus bertebaran. Hal itu dibuktikan dengan kemunculan Bipbip Watch yang dijual eksklusif di Blibli.com.

Diusung sebagai jam tangan yang bisa membantu komunikasi, memantau sekaligus menghibur si buah hati, saat ini orang tua pun akan lebih mudah memantau anaknya dengan Bipbip Watch. Penasaran dengan fitur yang dimiliki Bipbip Watch? Langsung klik link ini untuk lebih jelasnya!

Kadek

Kadek

Football for life, listen to Punk Rock and a "Red blood and White bones" person. A day without laughs is wasted for me.
Kadek

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY