Bagaimana Cara Menjadi Seorang Fotografer?


Dimanapun kapanpun di era kekinian pastilah kita tak pernah lepas dengan mengabadikan sebuah momen.

Entah kemana tujuan kita, pasti kamera selalu berada di saku kita. Baik itu berbentuk handphone maupun kamera DSLR sekalipun. Untuk pribadi saya, ketika traveling saya selalu membawa kamera canon power shot sx40 pocket kemana-mana. Selain memang bentuk dan kebutuhan fotonya sangat mendekati professional, kamera ini sangat efesien dibawa kemana-mana. Bagaimana denganmu? Apa kamera mu?

Artikel kali ini saya ingin berbicara mengenai fotografi. Apa yang membuat kita begitu ingin mengambil sebuah gambar. Yang membuat berbeda dari artikel ini adalah saya ingin mengajak dua fotografer professional untuk berbicara tentang fotografi. Kebetulan, kedua fotografer ini lekat dengan traveling. Keduanya menyentuh gambar humanis dan alam. Cinta mereka dengan traveling menjadi bagian mengapa artikel ini saya ciptakan.

Rika Kromodimuljo atau sering disapa Ka sudah mengawali karir fotonya sejak remaja. Bidikannya terus mengarah ke human interest. “Ekspresi manusia yang sangat beragam itu yang membuat saya terus ingin menangkap lebih banyak esensi dari hidup yang variatif ini,” ujar Ka. Bersama Nikon 40D nya itu ia telah melalang buana nusantara kita. Berbagai project lintas budaya sering ia ambil sebagai bahan memperkuat bidikannya.

Sedangkan untuk Nick Easton, pria ini lebih gemar mengambil pemandangan alam, terutama yang berbau laut. “Alam Indonesia itu tak akan pernah habisnya untuk di potret. Itulah kenapa saya sangat cinta Indonesia. Cantik!” ungkap Nick ketika memperjelas alasan mengapa ia sangat menyukai travel photo. Nick yang sering pergi solo bersama canon 60D-nya ia sangat menyukai Indonesia bagian timur. “Pesonanya itu membuat mata lensa saya tidak bisa berhenti.” Disamping berburu gambar alam, Nick berprofesi fotografer lepas di berbagai majalah untuk fashion shoot dan selebriti.

Rika_K (1)

Mei lalu saya mengajak mereka untuk saya wawancara di Blibli. Tapi saya mempunyai ide yang lain. Dari pada hanya kata-kata yang keluar, kenapa tidak saya coba tantang mereka dengan skill fotografi mereka di lapangan. Akhirnya dalam satu hari saya menantang mereka untuk mengambil human interest di lokasi Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tanpa berpikir, mereka pun mengangguk setuju.

Menjadi seorang fotografer itu sebenarnya mudah kata mereka, hanya ada satu syarat saja: kemauan. Membeli kamera apa saja bisa menjadi langkah pertama untuk belajar fotografi. Untungnya di Blibli juga dijual dengan banyak varian untuk kamera. Ka dan Nick pun juga menyarankan belanja online saja, karena alasan yang sangat sederhana: mudah dan cepat. Selain itu, latihan dan latihan juga memperkuat ketajaman framing seorang fotografer.

Nick_Easton (2) Rika_K (2)

Memilih brand kamera pun juga tidak perlu dipermasalahkan. Apa yang saya tangkap dari hasil wawancara bersama mereka, brand kamera itu tidaklah penting, namun yang penting adalah kebutuhan foto apa yang kamu ingin fokuskan. Semuanya memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing (kamu bisa melihat di bagian penjelasan daftar barang di Blibli).

Mau tau apa saja hasil dari wawancara saya? Simak video di atas! Bagaimana mereka berjalan seharian di Tanah Abang untuk menunjukan kepada Blibli Friends bahwa menjadi fotografer itu bisa asal disertakan kemauan yang keras. Well, menurut saya hasil bidikan mereka sangat keren!

 


NO COMMENTS

LEAVE A REPLY