“Ohh.. Si Kecil Mulai Bohong?”

Suatu hari seorang teman mengirimkan pesan singkat bahwa ia sangat sedih dan takut karena mengetahui anaknya berbohong. Saat itu, anaknya masih berusia 4 tahun. Teman saya tidak mau anaknya tumbuh menjadi pembohong di kemudian hari. Pastinya, setiap orang tua tidak mau anaknya berbohong, kan? Akan tetapi, Perner (1991) mengatakan bahwa setiap anak pasti melalui fase untuk menciptakan sebuah kebohongan lho! Hmm, bagaimana ya kita sebagai orangtua menyikapinya?

Beberapa anak mencoba berbohong karena mau mendapat perhatian dari lingkungan sekitar, ingin bereksperimen dengan imajinasinya, mencoba mendapatkan apa yang mereka mau, atau dilakukan untuk melihat respon Bubu. Perilaku berbohong dapat muncul dari sekitar usia 3 hingga 4 tahun karena rata-rata anak usia ini mulai memahami bahwa apa yang ia pikirkan, rasakan, dan inginkan dapat berbeda dari orang lain.

Mereka mencoba berbohong dengan meyakinkan orang lain untuk percaya terhadap hal yang tidak benar atau berbeda. Menariknya, saat anak belajar berbohong artinya secara kemampuan kognitif telah berkembang optimal (Heyman, 2017). Kenapa? Pertama, saat anak mencoba berbohong maka ia perlu menciptakan cara bagaimana orang lain dapat mempercayainya. Kedua, anak perlu memiliki kemampuan bahasa yang baik untuk bisa meyakinkan orang lain terhadap kebohongan yang ia buat.

Kemampuan anak untuk memanipulasi orang lain dengan berbohong dapat dilatih dan cukup besar dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar anak (Heyman, 2017). Seiring anak besar, peran keluarga dan lingkungan sangat penting untuk membentuk nilai kejujuran. Kegiatan membaca buku atau mendongeng dengan cerita yang mengandung nilai kejujuran merupakan kegiatan yang efektif untuk menanamkan nilai moral positif pada anak (Talwar, 2015). Lakukan sebelum tidur atau ketika Bubu santai bermain dengan anak.

Momen itu sekaligus menjadi ajang berdiskusi dengan anak mengenai pentingnya kejujuran. Selain itu, Bubu dan Pak Su perlu menunjukkan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari karena anak belajar melalui apa yang mereka lihat. Bisa dilakukan misalnya dengan mengucapkan maaf ketika melakukan kesalahan atau mengikuti aturan yang ada di lingkungan sebagai salah satu bentuk perilaku jujur.

Maka jangan langsung buru-buru panik ya Bubu saat anak memunculkan perilaku berbohong. Berikut hal-hal yang dapat Bubu lakukan ketika menemukan anak kita berbohong:

  1. Responlah dengan tenang. Misalnya anak mengatakan sedang tidak makan permen padahal Bubu tahu ia melakukan itu, maka Bubu dapat gunakan pertanyaan yang rinci untuk membuat anak menceritakan hal yang jujur, tanpa perlu menuduh ia berbohong.
  2. Bubu dapat berdiskusi dengan anak mengenai akibat berkata bohong, misalnya “Bagaimana rasanya kalau kamu tau Bubu bohong” “Kira-kira apa respon teman kamu kalau kamu bohong?”
  3. Dorong dan beri anak pujian jika ia melakukan perilaku jujur, misalnya “Terimakasih karena kamu sudah jujur kepada Bubu. Yuk kita lihat, apa yang bisa Bubu bantu untuk menyelesaikan masalah ini”
  4. Jangan tegur atau tuduh anak berbohong di depan orang lain. Anak bisa bohong dengan bilang ke Bubu X dan bilang ke Pak Su Y lho! Saat itu terjadi, Bubu dapat mencari waktu untuk diskusi. Terutama pada anak usia di atas 5 tahun, anak mampu melatih dirinya berperilaku jujur.

Referensi:

Heyman, Gail D. et al. (2017). Young Children Discover How to Deceive in 10 Days: a microgenetic studies. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/desc.12566

Kristen, Susanne & Sodian, Beatte. (2015). Theory of Mind During Infancy and Early Childhood Across Cultures. https://www.sciencedirect.com/topics/psychology/theory-of-mind

Talwar, Victoria et al. (2015). Promoting Honesty:The Influence of Stories on Children’s Lie Telling Behaviours and Moral Understanding. https://www.researchgate.net/publication/285572919_Promoting_Honesty_The_Influence_of_Stories_on_Children’s_Lie-Telling_Behaviours_and_Moral_Understanding

Oleh: Carmelia Riyadhni, S.Psi (Expert Partner Sahabat Ibu Pintar)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY