Menjadi Kartini Modern untuk Perempuan Modern

Blog Blibli Friends kali ini ngobrol-ngobrol dengan dua sosok perempuan modern yang menjalani profesi sesuai dengan keahlian dan passion mereka. Mereka adalah Renitasari Adrian, Direktur Djarum Bakti Budaya Foundation dan dr. Nidya Kartika Yolanda, seorang dokter yang kini juga mengurus beberapa rumah sakit. Selain bekerja sebagai profesional, mereka juga adalah ibu dari anak-anaknya dan istri dari suaminya. Hmm, jadi, apa ya makna Kartini modern di mata mereka?

“Dibutuhkan mental yang kuat, Kartini masa kini harus bisa mengatasi segala masalah. Dia harus mengalahkan kebaperannya, dia sakit hati atau apa, dia harus bisa mengatasinya.”

Begitu kira-kira kutipan dari Renitasari Adrian saat Blog Blibli Friends berkunjung ke rumahnya untuk berbincang mengenai menjadi Kartini di era ini. Perempuan yang akrab disapa Renita ini adalah seorang ibu yang juga menjadi Direktur Djarum Bakti Budaya Foundation.

renitasari

Tak hanya itu, juga dikenal sebagai co-host program yang mengenalkan kekayaan Indonesia di salah satu TV swasta. Pekerjaan ini membuat ia pergi ke luar kota atau pulau setidaknya satu kali dalam seminggu Di luar kesibukannya, ia tetap menjadi seorang ibu untuk 5 anaknya, dan istri bagi suaminya. Jadi, bisa bayangkan kesibukan Renita setiap harinya? Lalu, gimana sih caranya membagi waktu?

“Kita memang harus pintar membagi waktu. Bisa dibilang kita tuh juggling time dengan waktu untuk meeting atau ke luar kota. Perempuan memang harus dituntut untuk bisa me-manage semuanya menjadi efisien dan sistematis, juga harus bisa membagikan perhatian ke semuanya,” paparnya saat ditanya mengenai cara membagi waktu di tengah kesibukan.

Menjadi wanita yang bekerja adalah keputusannya sendiri. Katanya, selain agar bisa mandiri secara finansial, bekerja adalah caranya agar bisa menjadi bahagia. Ia menjalankan pekerjaan yang disukai sekaligus menjadi bermanfaat bagi orang lain.


Temukan berbagai produk yang bisa digunakan untuk ke kantor, agar senantiasa percaya diri jadi wanita modern di sini!


“Bekerja itu membuka wawasan kita. Kita menjadi bahagia karena kesibukan dan aktivitas kita. Kita bertemu banyak orang, membuka network, belajar banyak hal, dan me-manage orang. Jadi ya, bekerja itu bisa membuat kita jadi kaya, kaya dalam arti bisa menghadapi dan melewati banyak rintangan. Pengalaman itulah yang bisa kita share bersama anak dan keluarga,” ungkapnya.

Menurut Renita, semua perempuan Indonesia harus bisa menjadi Kartini modern. Jadi, yang penting bukanlah profesi atau pekerjaannya, tapi pola pikirnya. Kartini modern adalah perempuan yang memiliki cara pandang yang luas. Cara pandang yang luas, disebutkannya bisa didapatkan dari mana saja, apalagi kini semua orang memliki akses informasi yang sangat mudah.

“Kalau dulu mau masak aja harus nanya orang tua, sekarang buka aja deh Youtube, kita udah bisa masa kapan aja. Jadi, misalnya ada ibu rumah tangga yang seneng masak bisa nyoba banyak resep, kemudian membuka peluang bisnis,” ujarnya.

Bagi perempuan yang bekerja, informasi yang sangat terbuka ini menurutnya harus dimanfaatkan baik-baik. Jika seorang perempuan memiliki wawasan, niscaya ia akan lebih kuat. Mental kuat inilah yang diperlukan agar masalah bisa terselesaikan dengan baik.

“Jadi perempuan itu bukan hanya bisa ngurus anak atau di dapur aja, tapi juga pendamping suami, mendampingi anak dalam pendidikan, hingga hal-hal mendasar dalam kehidupan keluarga,” paparnya.

Intinya, perempuan punya hak dan suara yang sama, bisa memberikan kontribusi yang sama, baik di pekerjaan maupun karir.

kartini-microsite

Senada dengan Renita dr. Nidya Kartika Yolanda atau akrab disapa Bubu juga menyatakan bahwa Kartini modern adalah seorang wanita yang harus bisa mengurus keluarga sekaligus bisa berkarya dengan jalan yang dipilih secara mandiri.

“Kartini modern adalah seorang wanita yang selain memikirkan keluarga, dia harus bisa berkarya dengan jalannya, di mana hal itu juga bermanfaat bagi orang lain,” papar ibu dari dua orang anak ini.

Ia menjadi dokter karena pilihannya sendiri, terinspirasi dari profesi kedua orang tuanya. Orangtuanya adalah dokter yang dulu bertugas di daerah Sumatera Barat. Ia melihat dokter adalah profesi yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Seiring perjalanan karirnya, akhirnya ia menyanggupi untuk me-manage tiga rumah sakit di kawasan Bekasi. Ia justru merasa bersyukur karena akhirnya bisa memberikan fasilitas kesehatan bagi orang-orang yang tinggal di sekitar rumah sakitnya.

Tak hanya sibuk bekerja, ia tak melupakan perannya sebagai seorang ibu dan istri. Katanya, keluarga harus selalu jadi prioritas.

“Aku harus tau kapan bagi waktu buat keluarga dan kapan waktu buat rumah sakit. Alhamdulillah selama ini belum ada masalah, suami dan orangtua mensupport karena dengan ini aku bisa berkarya denga caraku sendiri,” ungkapnya.

Bubu menitipkan pesan untuk semua wanita Indonesia, baik bekerja maupun tidak, keluarga adalah nomor satu. Membangun potensi diri tidak harus selalu dilakukan di kantor, tapi juga di rumah.

“Mari gali lebih dalam, tugas utama wanita adalah untuk keluarga,” tutupnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY