Drama Akhir Tahun: “Bu, Aku Mau Liburan Seperti Temanku Ke Luar Negeri!!”

Ketika anak sudah semakin besar dan pergaulannya lebih luas, di satu sisi Bubu mulai bisa lega, karena anak sudah tidak terlalu bergantung pada Bubu dan mulai sibuk dengan teman-temannya, namun di sisi lain, sebagai orang tua, kita sudah tidak bisa mengendalikan apa yang anak dengar dari teman-temannya. Ada kalanya, apa yang mereka dengar dari teman-temannya bisa mempengaruhi anak. Begitu pula soal cerita liburan.

Rasanya sudah tidak asing lagi mendengar cerita para Bubu yang mengeluh karena anak-anak mereka “iri” dengan cerita teman-teman di sekolah. Menjelang akhir tahun, biasanya yang menjadi topik pembicaraan pada anak-anak ini adalah: pergi kemana saat liburan sekolah?

Meskipun tergantung dengan lingkungannya, tapi topik menghabiskan waktu liburan itu bisa menjadi tuntutan sosial tersendiri bagi anak-anak. Bayangkan ketika anak kita menjadi satu-satunya anak yang belum pernah pergi ke Bali (misalnya) lalu mendengar teman-temannya bercerita tentang Bali, dan asyiknya liburan di sana.

Jujur saja, terkadang bukannya kita tidak ingin memenuhi keinginan anak ya, Bubu.. Bubu pun butuh liburan, akan tetapi situasi di rumah terkadang tidak memungkinkan.

Perasaan “tertinggal’ dan “iri” dengan teman-teman adalah hal yang wajar dirasakan dan ditemui pada anak-anak mulai usia 5 tahun. Dari sesederhana “iri” dengan kotak bekal teman yang bermotif Frozen, sampai dengan “iri” dengan teman-teman yang sering jalan-jalan ke luar negeri.

Anak masih belum mampu memahami situasi secara menyeluruh, mereka hanya berpikir mengapa teman-temannya bisa, tapi saya tidak bisa. Jangan sedih ya, Bubu.. karena si kecil pun dapat belajar dari rasa iri ini. Hal-hal apa yang dapat dipelajari dari rasa iri dan bagaimana sebaiknya respon Bubu?

1. Bubu dapat berbagi juga tentang rasa iri yang Bubu rasakan

Penting bagi anak bahwa perasaan tidak menyenangkan yang mereka rasakan ini adalah sesuatu yang wajar, dan bukan hal buruk. Bubu dapat bercerita misalnya, “Bubu juga pernah merasa seperti itu, apalagi saat Bubu melihat teman Bubu yang seolah-olah tidak punya capek. Selalu sehat dan sibuk sana-sini”. Terkadang memang rasa iri tidak bisa kita kendalikan, tapi bagaimana kita menyikapi rasa iri tersebut, itu yang terpenting.

2. Kendalikan perilaku, bukan perasaan

Sulit sekali ya, kalau kita diminta mengendalikan perasaan, karena perasaan bukan hal yang rasional. Namun, kita bisa mengajarkan anak-anak untuk mengendalikan perilakunya. Iri kepada seorang teman, bukan berarti kita boleh bertindak tidak baik ke mereka. Terkadang anak-anak belum bisa membedakan hal tersebut. Mereka membenci orang yang membuat mereka merasa iri. Padahal, bukan salah orang tersebut kan? Jadi, kita dapat mengajarkan pada anak untuk dapat tetap bersikap baik meskipun iri. Misalnya anak iri dengan tempat bekal baru milik temannya, maka ia dapat berkata: wahh.. bagus sekali! Kamu pasti senang ya? Aku juga mau menabung deh, supaya bisa punya juga”

3. Belajar bersyukur lewat pengalaman unik

Meskipun memang rasanya tidak enak untuk merasa iri, lewat rasa iri kita juga bisa mengajarkan anak-anak kita bersyukur tentang hal yang sudah mereka miliki. Misalnya: Wah, si X memang asyik ya bisa jalan-jalan ke Bali! Tapi kakak ingat ngga, waktu kita wisata kuliner keliling-keliling Jakarta seharian naik bus tingkat? Itu juga seru! Bubu kangen soto yang ada di stasiun deh… kapan-kapan kita cari tempat makan baru yang belum pernah kita coba ya? Dan berdoa semoga kapan-kapan kita bisa liburan ke Bali juga!”

4. Menjadi panutan anak

Agak sulit rasanya untuk bisa membuat anak kita tidak mudah iri dengan anak lain saat kita masih suka membanding-bandingkan anak kita dengan anak orang lain. Ya, kita saja sebagai Bubu iri dengan sifat anak lain.. gimana dong ya? Hehe.. Oleh karena itu ada baiknya jika Bubu mulai bisa memberikan pujian dan umpan balik yang sehat dan tidak perlu membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain.

Jadi, sebenarnya mari kita jujur, bahwa rasa iri adalah sesuatu yang alami. Sehingga mustahil bagi kita untuk bisa membuat anak kita tidak merasakannya.

Namun, jika kita bersyukur dengan pengalaman unik yang kita miliki dan menerima anak apa adanya, tanpa harus membanding-bandingkan dengan anak-anak lain, tentu saja membuat anak memahami bahwa pengalaman setiap orang bisa berbeda dan meskipun berbeda, semua pengalaman tersebut bisa sama-sama terasa menyenangkan!

Oleh: Agstried Elisabeth, M.Psi., Psikolog, Expert Partner Sahabat Ibu Pintar

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY