Laf Project, Sepatu Lokal yang Dibuat dengan Cinta

Bangkit dari keterpurukan 2 miliar rupiah, Laf Project kini mendulang omzet hingga ratusan juta rupiah. Berkat produk sepatu kasual yang dibuat dengan cinta.

Adalah Muhamad Yusuf Sahroni. Pria berusia 29 tahun ini merupakan generasi ketiga dari keluarga perajun sepatu di Cibaduyut, kawasan yang kondang dengan produk kerajinan lokal Paris van Java.

Usaha produksi sepatu keluarga mulai mendulang sukses sejak 1993 dan menembus pasar ekspor Yaman, Timur Tengah. Namun, Yusuf mengungkapkan kepada Kompascom (16/7/2019), usaha sepatu keluarganya bangkrut pada 2017. Penyebabnya, konflik dalam negara tujuan ekspor hingga menyebabkan terhentinya ekspor usaha sepatu Keluarga Yusuf. Karena musibah itu, ayah Yusuf sakit.

Dia pun memutuskan keluar dari tempat bekerjanya, BRI, dan mulai terjun membenahi usaha sepatu tersebut. Yusuf mengambil tabungan pensiunnya sebesar Rp 8 juta dan bekerja sama dengan kakaknya yang juga menguras simpanan dananya. Yusuf membeli bahan sepatu dan kakaknya mendukung dengan membeli peralatan produksinya.

Pada Agustus 2018, berdirilah LAF Project, usaha sepatu yang konsep bisnis hingga desainnya jauh lebih kekinian ketimbang milik sang ayah. LAF Project memulai bisnis dan produksinya di Holis, bukan di Cibaduyut lagi.

LAF Project menjual 4 desain, dengan produk unggulan: sepatu jahitan (knitting). Yusuf yang ditunjuk sebagai CEO LAF Project, memasang harga yang sangat terjangkau masyarakat luas, untuk desain yang bagus dan kekinian.

LAF Project Jack V 1 Casual
LAF Project Jack V 1 Casual

“Harganya Rp 260 – 280.000. Produksi kami per bulan 200 pasang sepatu dan 150 di antaranya untuk knitting. Tahun depan kami menarget produksi hingga 500 pasang sepatu setiap bulan,” tegas Yusuf lagi.

LAF Project Ronald Casual Running Sneakers Pria
LAF Project Ronald Casual Running Sneakers Pria

Dalam hitungan bulan setelah memulai bisnisnya, LAF Projects mampu merekrut 8 pegawai dan beromzet Rp 30 jutaan per bulan alias ratusan juta rupiah setiap tahun.

Yusuf mengaku, terbantu dengan e-Commerce. Setelah mengenal Blibli.com melalui seminar dan mendapatkan pendampingan, LAF Project menuai hasil lebih baik. Yusuf pun mengimbangi dengan belajar keras tentang digital marketing.

“Saya mulai belajar SEO, algoritma, ngulik berbagai hal termasuk memotret produk agar terlihat real dan indah,” lanjut dia.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat serius menggandeng e-Commerce untuk meningkatkan potensi UMKM daerahnya. Dari data Pemprov Jabar, pengguna internet mencapai 98% dan perkembangan ekonomi dan UMKM hingga 33%. Pertumbuhan ekonomi Jabar meningkat 50%. Itu yang membuat Yusuf dan LAF Project optimistis.

“Ingatlah, saya juga memulai usaha dari minus Rp 2 miliar. Yang dibutuhkan di era digital adalah inovasi yang tiada henti,” kata Yusuf.

Dibuat dengan cinta, seperti LAF Project. Filosofi LAF adalah dari nama anak Yusuf, Muhammad Langit Al-Faruq.

Nama itu diambil dari cerita Timur Tengah, tentang sang kakek penanam kurma. Meski mungkin saja tidak dapat menikmati kurma karena keterbatasan usia, kakek itu tak berkecil hati dan bilang, dia menanam kurma itu untuk kebaikan kepentingan generasi berikutnya.

Demikian pula dengan Yusuf. Dia mendirikan dan membesarkan LAF Project untuk bekal anak-anaknya kelak. Bisa jadi, LAF diplesetkan dari kata Love. Ini dia deretan koleksi sepatu lokal penuh cinta dari LAF Project.

Raya

Crafts and cultures enthusiast who lives in Kota Gede, DIY. I love to travel around Indonesia because this country is more adventurous, unique, and interesting than any other. When I stay in the city, I usually going to a spa, jogging in the city park, and of course, gathering with my friends.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY