Tips Kompak Jadi Orangtua

Halo calon orangtua! Apa kabar Bubu dan Pak Suami? Bagaimana kehamilannya sejauh ini? Semakin dekat dengan hari perkiraan lahir rasanya campur aduk ya. Antara senang dan tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan sang buah hati. Tapi di sisi lain, ada juga perasaan cemas tentang apakah semuanya sudah siap untuk menyambut si kecil? Apa saja sih yang perlu dipersiapkan oleh Bubu dan Pak Suami?

Selain perlengkapan bayi, tentu saja Bubu dan Pak Suami perlu untuk menyiapkan diri dengan ilmu dan informasi seputar parenting. Namun salah satu aspek penting dalam menjalani parenting yang sukses adalah kekompakan dengan pasangan

Sebagai suami-istri, Bubu dan Pak Suami perlu memiliki kesamaan visi misi tentang nantinya mau membina keluarga yang seperti apa. Nilai-nilai pengasuhan apa yang mau diajarkan ke anak serta bagaimana cara mengajarkannya. Banyak orangtua yang tidak mendiskusikan hal ini di awal kehamilan, dan justru memilih ah lihat nanti aja enaknya gimana. Memang ada hal-hal tertentu yang bisa dibahas nanti, tapi tidak ada salahnya juga untuk membahas dan membuat kesepakatan dari sekarang.

Kenapa harus sekarang? Justru sekarang adalah saat yang tepat, di saat calon orangtua masih bisa berdiskusi dengan leluasa tanpa terganggu tangisan anak bayi, tanpa rasa lelah karena kurang tidur akibat si bayi yang senangnya mengajak main di malam hari, dan tanpa beban ekstra lainnya.

Apa saja yang perlu didiskusikan? Sebelum sang buah hati lahir setidaknya ada tiga (3) topik besar yang sebaiknya sudah ada kesepakatan antar Bubu dan Pak Suami.

1. Peran orangtua yang ingin dijalani

Masing-masing pihak, Bubu dan Pak Suami, tumbuh dari dua keluarga yang berbeda dan memiliki kebiasaannya masing-masing. Umumnya, tiap orang memiliki pandangan tentang bagaimana peran ibu atau peran bapak yang ingin dijalani dengan belajar dari orangtuanya masing-masing. Karena Bubu dan Pak Suami memiliki orangtua yang berbeda, jadi wajar saja bila masing-masing memiliki pandangan yang berbeda. Nah, hal inilah yang perlu didiskusikan dan disepakati. Misalnya Pak Suami yang ingin Bubu menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab penuh atas pengasuhan anak tanpa bantuan orang lain. Sedangkan Bubu, punya pandangan bahwa peran ibu adalah mengurus anak dan bekerja, sehingga akan membutuhkan bantuan orang lain seperti orangtua, tante, atau babysitter. Masalah peran-peran seperti inilah yang perlu didiskusikan.

2. Bagaimana mengatasi konflik yang akan muncul

Ketika nanti si kecil lahir, tantangan baru akan muncul. Umumnya tantangan akan datang dari keluarga besar (seperti banyaknya saran dan anjuran dari orangtua tentang mengasuh anak yang mungkin berbeda dengan pola pengasuhan yang ingin diterapkan oleh Bubu dan Pak Suami), masalah antar Bubu dan Pak Suami (misal Bubu yang merasa Pak Suami kurang membantu dalam mengurus bayi  atau Pak Suami yang merasa terlalu banyak dikritik Bubu setiap kali mengurus bayi), dan tantangan di lingkungan sosial seperti pertemanan dan pekerjaan (misal kesulitan mengatur waktu antara ingin berkumpul bersama teman-teman tapi waktu untuk bersosialisasi berbenturan dengan waktu tidur si kecil).

Ketika masalah sudah muncul, dengan banyaknya hal yang harus dipikirkan seringkali orangtua baru kesulitan untuk menyelesaikan tantangan-tantangan tersebut dengan kepala jernih. Oleh karena itu tidak ada salahnya didiskusikan dari sekarang. Misalnya, kalau nanti si nenek keukeuh nyuruh cucunya dikasih susu formula aja biar gendut gimana? Padahal kita maunya si kecil nanti ASI eksklusif.

3. Pembagian tugas mengurus bayi

Kebutuhan sehari-hari bayi baru lahir belum terlalu banyak. Rutinitas bayi sehari-hari adalah ganti popok, menyusu, disendawakan, tidur, dan diajak bermain. Sedikit kan? Iya! Tapi siklusnya sangat pendek, dalam artian 24 jam bisa tidak berhenti diulang terus-menerus. Menyenangkan, tapi di sisi lain juga sangat melelahkan. Ditambah lagi dengan bayi baru yang belum terbentuk dengan baik jam tidurnya sehingga bisa saja si kecil terjaga semalaman sedangkan orangtua butuh untuk tidur dan beristirahat agar siap beraktivitas esok harinya.

Semua ini bisa diatasi dengan kerja sama dan kesepakatan antar Bubu dan Pak Suami. Misal, kalau malam hari si kecil bangun, yang menyusui Bubu dan yang menyendawakan adalah Pak Suami. Atau kalau Pak Suami bekerja dan Bubu di rumah, ketika Pak Suami pulang, tolong pegang si kecil dulu sementara Bubu punya waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau sekedar bebersih diri. Yang penting ada pengaturan yang disepakati berdua!

Semua orangtua pasti ingin si kecil bahagia. Dan kebahagiaan si kecil, terutama sekali dapat ditularkan dari orangtuanya. Karena ketika Bubu dan Pak Suami Bahagia bersama, maka emosi dan nuansa bahagia ini pun akan sangat mudah dirasakan oleh si kecil. Begitu juga ketika Bubu dan Pak Suami sedang merasa tertekan. Si kecil, bahkan bayi baru lahir pun, peka sekali dalam merasakan emosi tersebut dan juga ikut merasa tertekan yang seringkali diekspresikan dalam bentuk kerewelan bayi.

Jadi sekarang, sambil menanti kehadiran si kecil, coba diskusikan bersama nantinya mau menjadi orangtua yang seperti apa ya. Bubu dan Pak Suami bisa belajar dari pengalaman orangtua lain, namun dalam pengaplikasiannya di Bubu dan Pak Suami sesuaikan dengan kebutuhan keluarga kalian ya. Happy parenting!

Oleh: Nadya Pramesrani M. Psi., Psikolog

Expert Sahabat Ibu Pintar

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY