Tips Ketika Anak Mogok Sekolah

Di usia 5 tahun ke atas, biasanya si Kecil mulai masuk ke sekolah dan belajar setiap hari di sekolahnya. Di awal-awal masa sekolah, ia tampak bersemangat dan senang dengan sekolahnya. Tetapi, ada kalanya si Kecil menjadi malas-malasan dan cenderung menolak pergi sekolah. Apa yang terjadi ya?

Penolakan sekolah atau mogok sekolah, dikenal dengan istilah school refusal behaviour. Penyebabnya bisa bermacam-macam, sering kali dilatarbelakangi oleh kecemasan anak terhadap sesuatu. Bisa karena kecemasan berpisah dengan orang tua atau pengasuh utamanya, bisa kecemasan menghadapi tantangan sosial di lingkungan sekolahnya, atau kecemasan-kecemasan lain yang berdampak pada aktivitasnya bersekolah. Selain itu, penolakan anak bersekolah bisa juga disebabkan oleh kondisi menyenangkan yang selalu ia terima di luar sekolah, seperti bermain games dan menonton televisi yang berlebihan di rumah.

Perilaku mogok sekolah yang berkepanjangan ini dapat memberikan dampak negatif bagi anak dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Menurut Kearney dan Albano (2004) dampak dari perilaku ini meliputi penurunan prestasi akademik, meningkatnya stress, pengucilan dari teman sebaya, menimbulkan masalah dalam keluarga, dan kemungkinan untuk berperilaku yang tidak diharapkan karena kurangnya pengawasan.

Ada baiknya bila Bubu dan Pak Suami mulai mencermati beberapa perilaku si Kecil yang dapat mengarah pada perilaku mogok sekolah di kemudian hari, seperti:

  • Memiliki riwayat separation anxiety (kecemasan berpisah dari orang tua) di masa lalu yang cukup signifikan
  • Banyak sekali keluhan yang muncul mengenai kondisi di sekolah
  • Sering datang ke klinik sekolah tanpa ada kondisi sakit yang nyata
  • Seringkali menolak bangun pagi untuk pergi ke sekolah
  • Khawatir mengenai beragam kondisi di sekolah (biasa muncul dalam kalimat “Nanti kalau di sekolah begini gimana? Kalau begitu gimana?”)
  • Mengutarakan takut mengenai hal yang dianggap sepele oleh orang tua, tetapi merupakan hal penting bagi anak. Misalnya, “Aku di sekolah takut kalau ke kamar mandi sendirian, tapi gak boleh kalau pergi berdua sama teman.”
  • Kondisi fisik yang berkaitan dengan kondisi psikologis, seperti sakit perut, badan terasa tidak nyaman, atau sakit kepala berulang, terutama tanpa adanya penyebab sakit fisik yang nyata

Apabila mulai muncul kondisi-kondisi seperti di atas, ada baiknya Bubu dan Pak suami meluangkan waktu lebih banyak dengan si Kecil dan mengajaknya berbicara mengenai apa yang ia rasakan mengenai sekolahnya. Usahakan untuk tidak mengecilkan atau menganggap remeh setiap detail yang disampaikan anak, karena bisa jadi memang hal tersebutlah yang ia anggap penting. Bantu anak untuk mencari strategi atau jalan keluar dari permasalahan yang ia hadapi saat ini. Dukungan emosi dari Bubu dan Pak suami sangatlah penting agar anak memiliki rasa percaya diri dalam menangani tantangan yang dihadapinya.

Jika anak sudah benar-benar mogok sekolah hingga tidak masuk beberapa hari hingga kurun waktu yang lama (bisa bulanan dan tahunan apabila dibiarkan berlarut-larut), tentu saja hal ini membutuhkan penanganan yang lebih sistematis. Salah satu kunci utama penanganan adalah dengan adanya kerjasama dari pihak orang tua, guru, dan psikolog (apabila memang membutuhkan bantuan psikolog di luar sekolah). Dibutuhkan serangkaian pemeriksaan untuk dapat memahami penyebab dari perilaku mogok sekolah tersebut. Dengan memahami permasalahan pokoknya, tindakan intervensi atau bantuan yang diberikan kepada anak diharapkan akan lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhannya. Jadi, jika sudah berusaha namun belum berhasil, jangan ragu untuk meminta bantuan pihak professional (psikolog klinis anak atau pendidikan) ya Bubu! 😊

1 COMMENT

  1. Anak pertama saya dulu sempat mogok sekolah waktu masih playgroup, kayaknya sih dia bosan sekolah, saking sekolahnya kecepatan, masih usia 2 tahun lebih, jalan 3 tahun gitu.
    Akhirnya saya biarin aja dia nggak sekolah, terus pas lihat ada sekolah yang temanya lebih ke alam, saya ajak dia main ke situ, eh dia mau sekolah lagi dong, memang sebaiknya cari sekolah yang bikin anak nyaman 🙂

LEAVE A REPLY