Mengenal Baby Blues: Apa, Kenapa, dan Bagaimana Mengatasinya

Periode setelah melahirkan biasanya diisi dengan perubahan- perubahan intensif, baik secara fisik maupun emosional. Dengan adanya anak, maka pasangan yang tadinya berperan sebagai suami dan istri, kemudian bertambah juga dengan perannya sebagai orangtua. Momen kelahiran anak juga menandakan adanya perubahan-perubahan yang terjadi dalam unit keluarga tersebut. Namun, apabila Bubu dan Pak Suami mengalami kesulitan yang berkepanjangan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang dibutuhkan, maka Bubu dan/atau Pak Suami beresiko untuk mengalami Post-Partum Mood Disorder.

Bubu, perlu diketahui dulu bahwa terdapat 3 level dari Post-Partum Mood Disorder, yaitu:

  1. Post-Partum Blues atau sering dikenal dengan baby blues. Kondisi ini biasanya dialami di hari 1-3 setelah melahirkan dan dapat berlangsung hingga 2 minggu lamanya. Beberapa gejalanya adalah perubahaan mood yang sering, merasa sedih tanpa sebab, mudah merasa terganggu, mudah marah, kurang tidur, sering menangis, merasa kesepian dan tidak berdaya (Burt, 2006)
  2. Post Partum Depression, merupakan gangguan depresi yang dapat terjadi di 1 tahun pertama sejak melahirkan. Gejala yang dialami Bubu serupa dengan baby blues, namun berbeda di intensitas dan durasinya, yang pada akhirnya dapat menganggu fungsi Bubu dalam menjalani kesehariannya.
  3. Post Partum Psychosis, adalah kondisi gawat darurat mental yang dapat membahayakan Bubu dan Si Kecil. Selain mengalami gejala yang dialami oleh PPD, Bubu dengan post-partum psychosis juga mengalami paranoia, halusinasi, delusi, dan pikiran-pikiran bunuh diri dan/atau membunuh.

Dalam artikel ini, kita akan bahas terutama dengan Baby Blues ya, karena pengenalan gejala dan memberikan bantuan sedini mungkin, dapat meningkatkan kualitas hidup Bubu dan keluarganya, serta mencegah baby blues berkembang menjadi kondisi yang lebih mengganggu.

Tahukah Bubu, bahwa menurut beberapa penelitian, sekitar 60-80% Bubu yang baru melahirkan mengalami Post Partum Blues (Beck, 2003; Manjunath, 2011; Bass, 2018). Sangat penting bagi para Bubu yang mengalami baby blues ini untuk mendapatkan bantuan, karena 20% dari Bubu yang mengalami baby blues, kemudian berkembang menjadi mengalami Post Partum Depression (Rodrigues, 2002).

Faktor resiko apa saja yang perlu kita waspadai? Beberapa kondisi yang dapat membuat Bubu rentan mengalami baby blues (Manjunath, 2011) adalah sebagai berikut:

  • Perubahan hormon yang drastis (hal ini sebenarnya jamak terjadi pada ibu yang baru melahirkan)
  • Faktor sosial-budaya seperti Pak Suami yang dirasa kurang aktif membantu, support system yang kurang kuat, serta adanya tuntutan-tuntutan tertentu kepada ibu baru
  • Faktor ekonomi, terkait kemampuan keuangan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup
  • Konflik hubungan, terutama ketika ada konflik intensitas tinggi dan berkepanjangan dengan pasangan dan/atau keluarga dekat.

Jadi, bisakah baby blues dicegah? Atau ketika sudah dialami, apakah dapat disembuhkan? BISA! Umumnya, baby blues dapat terselesaikan dengan sendirinya (tanpa bantuan terapi professional), namun butuh adanya dukungan emosional dari lingkungan sosial (Bass & Bauer, 2018).

Apa yang bisa dilakukan Bubu untuk membantu diri mengatasi baby blues-nya? Beberapa strategi dibawah ini juga bisa dilakukan oleh lingkungan sekitar yang mengenali anggota keluarganya mengalami baby blues ya.

  1. Luangkan waktu untuk olahraga

Beberapa penelitian, salah satunya dari Kolomanska-Bogucka (2019), menunjukkan bahwa aktivitas fisik efektif dalam mencegah kemunculan gangguan depresi pada wanita yang setelah melahirkan. Jangan lupa konsultasi dulu dengan dokter Bubu untuk pilihan olah raga yang aman bagi Bubu ya.

  1. Lakukan meditasi atau relaksasi

Meditasi dan relaksasi tidak hanya membantu Bubu untuk merasa tenang dan kembali berenergi untuk melanjutkan tanggung jawab sehari-hari. Namun dengan meditasi dan relaksasi juga Bubu bisa menjadi lebih peka dan sadar akan apa yang dirasakan dan dibutuhkan, sehingga bisa lebih efektif pula dalam meminta bantuan dari lingkungan

  1. Tidur

Memang hal ini merupakan kemewahan ketika memiliki bayi baru lahir. Namun, kurangnya istirahat dan tidur berkualitas beresiko untuk memperparah kondisi emosional Bubu sehingga rentan mengalami depresi (Smith, 2019). Manfaatkan bantuan lingkungan untuk Bubu bisa memasukkan waktu tidur yang berkualitas ya.  

  1. Keluar rumah dan kena matahari

Cahaya matahari dapat memberikan efek positif bagi seseorang (Smith & Segal, 2019). Luangkan waktu 10-15 menit tiap harinya untuk keluar rumah dan mendapatkan cahaya matahari.

  1. Jaga komunikasi terbuka dengan pasangan

Bubu yang mengalami baby blues seringkali menyimpan emosi-emosi negatifnya sendiri, karena khawatir dicap tidak bersyukur atas kehadiran Si Kecil. Namun justru memendam seperti ini bisa memperburuk situasi. Diskusi dan sampaikan perasaan negatif atau kesulitan yang Bubu alami, terutama dengan pasangan ya. Agar bantuan dan penyesuaian bisa segera dilakukan sebelum situasi bertambah buruk.

  1. Pertahankan kontak sosial

Di tengah kesibukan menyesuaikan diri dengan kehadiran si Kecil, memang wajar bila Bubu merasa seperti tidak bertenaga lagi untuk menjaga hubungan dengan orang lain. Namun, ternyata tetap menjaga hubungan dengan anggota keluarga ataupun teman justru dapat menjadi sumber dukungan emosional ketika Bubu merasa lelah. Bergabung dengan kelompok ibu yang memiliki persoalan serupa dapat menjadi tempat aman Bubu untuk berbagi kekhawatiran dan perasaan-perasaan negatif lainnya (Smith & Segal, 2019). Bergabung dengan komunitas Sahabat Ibu Pintar dapat menjadi salah satu jawaban berarti nih Bubu 😉

Meskipun umumnya baby blues dapat selesai dengan sendirinya, jangan ragu untuk mencari bantuan professional bila Bubu merasa membutuhkan ya. Happy Parenting, Bubu!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY