Javara, Setia Angkat Derajat Pangan Indonesia

Tajuk di atas adalah arti dari jargon Javara, Indigenious Indonesia. Startup ini setia mengangkat pasar pangan tradisional dan budaya Indonesia sejak 2008.

Pada tahun itulah Helianti Hilman mendirikan PT Kampung Kearifan Indonesia yang di-branding Javara. Helianti adalah lulusan King’s College , London, yang mengambil spesialisasi hukum HKI (hak kekayaan intelektual).

“Background saya pendidikan hukum, saya banyak melakukan perjalanan ke pedesaan saat saya bekerja sebagai konsultan di lembaga asing. Saya pikir banyak produk lokal ini yang potensial,” sebut Helianti dalam wawancara dengan Detikcom, Selasa (28/8/2017).

Dari situs resmi Javara, Helianti mengaku memulai Javara dengan 10 petani dengan 8 produk dan akhirnya menjadi 52.000 dengan 750-an produk. Sekitar 250 produk sudah mengantongi standar organik Jepang dan Eropa.

“Kami mulai dari beras, kemudian kacang-kacangan, kemudian tepung. Kemudian, ditambah lagi gula kelapa, kemudian rempah-rempah,” tandas Helianti.

Masih dari dia, Javara awalnya tidak didesain sebagai bisnis.

“Saya banyak berkenalan dengan jaringan pertanian yang masih berbasiskan kearifan lokal dan mereka (petani pedesaan) masih mempertahankan warisan pangan kuno, kayak beras kuno dan memang tantangannya mem-branding lagi makanan-makanan ini,” terang Helianti lagi.

Pengalaman Bicara

“Saya banyak travelling kebetulan. Hobi saya itu masak dan makan. Setiap saya travelling ke luar negeri yang pasti saya datangin itu pasar atau toko-toko yang menjual makanan gormey atau premium, saya lihat, ‘oh kalau produk premium kemasannya begini, style kayak begini’. Jadi, kita punya wawasan,” sebut CEO Javara itu panjang lebar.

Helianti akhirnya mendapatkan inspirasi kemasan premium untuk produk-produk pangan tradisional Indonesia.

“Saya sudah (bepergian) ke sekitar 40 negara, jadi sudah punya gambaran. Di sisi lain, saya punya jaringan pertanian yang masih pelihara dan harta karun keanekaragaman hayati Indonesia,” tukas dia. “Saya pikir bagaimana saya jadi terpikir kalau dikemas begini, diolah begini, dilempar ke pasar laris, jadi kami mulai desain kemasan, tapi juga desain konsep produknya, makanya kalau lihat pertama, kita lebih banyak pakai bahasa Inggris dalam kemasan, karena ini jadi bagian dari branding.”

Setahun lalu, 800-an produk Javara sudah berkelana ke 23 negara di 5 benua. Semuanya berkat petani-petani Indonesia.

“Petani sekarang ada 54.000. kemarin kita baru sertifikasi lagi sekitar 2 ribuan,” kata Helianti kepada Kompascom, Senin (17/12/2018).

“Untuk masuk ke pasar mancanegara prinsipnya simpel. Satu, kita harus create winning product, harus ada pembeda, (produknya) unik. Jangan ikuti orang kebanyakan. Kedua, standardisasi produk,” tegas dia lagi.

Digemari Warga Mancanegara

Produk Javara mendapat perhatian besar dari dunia internasional.

“Dulu, ekspor kami pakai (sebagai jalan pemasaran) karena we don’t have any other way, terutama untuk produk yang kita enggak bisa rilis di Indonesia karena faktor regulasi. Kita sempat 90 persen ekspor pada 2014,” kenang Helianti kepada Kompascom.

Seiring perubahan perilaku konsumen Indonesia, produk Javara mulai digandrungi di dalam negeri.

“Dengan adanya sosial media dan trend foodies yang berkembang di Indonesia, kami dapatkan benefit, karena sebenarnya lebih enak jualan di negeri sendiri. Lebih pendek mata rantainya, marjin lebih gede. Sekarang, presentase pemasaran produknya hampir 50-50,” ujar Helianti.

Untuk tiap produk, Javara mengemas dengan eksklusif dan menonjolkan sisi kearifan budaya Indonesia. Misalnya, produk beras Javara dinamai dengan nama khas Indonesia seperti Andel Abang, Cempo Merah, Wangi Menyan, Jenggot Netep dan Menthik Susu plus dikemas dengan berat antara 400 gram dan 5 kilogram.

Bukan hanya beras, Javara juga memiliki bahan pangan tradisional andalna yang lain seperti produk gula semut alami atau coconut sugar yang cukup digemari di Eropa. Varian rasa yang beragam seperti original, vanila, jahe, temulawak dan kunyit membuat warga asing selalu ketagihan untuk menggunakannya sebagai campuran makanan dan minuman.

“Untuk coconut based saja ada 37 produk yang sudah kami kembangkan dan bersertifikasi organik,” tutur Helianti.

Javara juga mengembangkan bahan makanan rempah-rempah, yang memang jadi kekayaan Indonesia dari dulu kala.

“Yang namanya produk pertanian atau produk alam, enggak bisa dilepaskan dari ekologinya, jadi, misalnya, lada Vietnam beda dengan rasanya lada yang ditanam di Bangka dan Lampung yang lebih enak,” ucap Helianti. “Banyak produk yang kita jual kita tekankan karakteristik originalnya, misalnya garam Bali, ada kemiri Flores, ada ikan gabus dari Kalimantan, kita tekankan itu, terutama origin yang sangat pengaruh ke kualitas, karena di tempat lain akan beda rasanya” Tertarik dengan produk-produk pangan tradisional organik khas Indonesia dari Javara? Bungkus produk Javara di Galeri Indonesia, Bliblicom, melalui tautan ini.

Rio

Digital agency’s worker, amateur internet scholar, professional gamer also very in love of running in a field and swimming. A community person who loves touring with bike or motorcycle.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY