Ketika membesarkan si buah hati, mengembangkan kecerdasannya (IQ) merupakan fokus utama banyak orang tua. Namun, nggak kalah penting adalah EQ dari sang anak.

Salah satu nilai/sifat yang penting ditanamkan kepada si kecil semenjak dini adalah empati. Melalui empati si kecil belajar bagaimana memahami perasaan orang lain dan bertoleransi.

Bagaimana ya, caranya? Nggak perlu bingung moms. Kali ini, Blibli.com berbincang-bincang dengan Dr. Hastaning Sakti, M.Kes, Psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro untuk membantu moms mengajarkan empati buat si buah hati. Ternyata, 5 hal ini penting banget loh untuk diperhatikan!

1. Rangsangan yang positif dari orangtua

rangsangan-positif

Via – Suicide Out Reach

Kondisi psikologis si kecil sangat bergantung pada stimulus/rangsangan dari orangtuanya. Rangsangan ini dapat berupa kata-kata, sentuhan, dan perhatian ketika berinteraksi.

Menurut Dr. Hastaning, rangsangan yang postif penting untuk pertumbuhan sel-sel otak dan pembelajaran. Semakin sering rangsangan diulang, semakin cepat pula hal tersebut dipahami.

Jadi, modelling positif dari orangtua sangat dibutuhkan untuk belajar hal positif seperti empati. Biar ia lebih mudah memahami perasaan moms, moms perlu menjelaskannya berulang-ulang dengan cara yang ia pahami.

Dalam mengajarkan empati, moms dan dads perlu kompak seia dan sekata. Dengan begini, si kecil nggak akan kebingungan (mengalami konflik batin) dalam menanggapi kedua panutannya.

2. Dengan siapa si kecil berinteraksi juga penting

uh-xs-fiztk-alexander-dummer

Mungkin moms dan dads terlalu sibuk bekerja. Sehingga, nggak jarang si kecil dititipkan pada orang lain. Bisa kakek neneknya, kakaknya, pengasuh di rumah atau tempat penitipan.

Nah, jika si kecil menghabiskan waktu yang banyak dengan mereka, otomatis ia akan belajar sedikit banyak dari tindak tanduk orang yang mengasuhnya. Sehingga, moms perlu memastikan benar apa yang ia contohi dari pengasuhnya itu bersifat empatik dan tolerir.

Moms bisa mengamati apakah dalam berinteraksi, pengasuhnya berusaha membuatnya memahami mengapa sesuatu itu salah (atau benar) dari sudut pandang orang lain?

Misalnya, untuk membujuk si kecil makan, ia bisa memberitahu bahwa siapa saja yang akan senang bila si kecil mau makan. Begitu juga ketika si kecil melempar boneka mainannya ke arah teman. Mungkin temannya atau bonekanya akan sedih jika diperlakukan demikian.

3. Pemberian asupan nutrisi (ASI) yang cukup

asi-cukup

Via – Mothers Day

Sikap empati pada anak usia dini/balita merupakan bentuk empati emosional. Hal ini bisa tercermin dari sikap si kecil saat menangis bila melihat anak kecil lainnya menangis, tertawa atau excited bila yang lainnya berprilaku serupa.

Karena, pada dasarnya empati merupakan kemampuan memproyeksikan perasaan orang lain terhadap emosi mereka. Dan bayi cukup jago dan sensitif dalam hal ini.

Agar perkembangan ini terjamin, moms dituntut untuk memberikan asupan ASI yang cukup? Mengapa? Memberikan ASI nggak hanya sekadar ‘menyusui’, namun ada kehangatan dan kelekatan yang terlibat dalam prosesnya.

Semakin lekat si kecil dengan moms, maka ia akan semakin merasa aman. Dari sinilah ia belajar berhubungan secara emosional dengan orang lain, sekaligus berempati.

Jika si kecil sudah nggak lagi menyusui, hal ini bisa diganti dengan aktivitas intim lainnya, seperti tidur, makan, dan mandi.

4. Memberikan batasan bijak untuk alat elektronik

batasan-bijak-elektronik

Zaman sekarang, sudah biasa kita menemui orangtua yang menyodorkan gadget sebagai mainan si kecil untuk mendiamkannya. Gadget memang bisa mendidik, namun tentu hal ini sedikit banyak memiliki pengaruh pada empatinya.

Pasalnya, menurut Dr. Hastaning, jika si kecil berinteraksi dengan gadget berlebihan kemampuannya untuk berempati terhadap lingkungan sekitar akan berkurang.

Pada poin-poin sebelumnya beliau telah menekankan betapa pentingnya unsur interaksi antar manusia berperan dalam membentuk empati yang oke. Bayangkan jika ia senantiasa berinteraksi dengan layar gadget?

Namun, beliau juga berpesan bahwa asal penggunaan wajar, hal tersebut bukan masalah besar. Apalagi, nggak dipungkiri terdapat game atau aplikasi di luar sana yang bisa melatih kognisi dan empati si buah hati.

5. Memberikan mainan edukatif dan ruang beraktivitas bersama

mainan-edukatif

Via – Public Domain Pictures

Membentuk sikap empati pada si kecil, bisa juga melalui mainan yang tepat. Dr. Hastaning sendiri menyarankan pada mainan yang mengakomodasi program empati si kecil. Misalnya mainan edukatif seperti buku interaktif.

Jika bingung, moms bisa merujuk pada Skip Hop Owl Puppet Activity Book. Tidak sekadar mainan, Skip Hop juga memiliki fitur suara dan padupadan aktivitas yang baik untuk mengasah empati emosional si kecil.

Di sini, si kecil pun dapat lebih banyak berinteraksi dengan lawan mainnya daripada bergantung pada gadget yang cenderung bersifat individualis. Oh ya, memberikannya waktu bermain bersama anak-anak lainnya juga merupakan hal yang wajib dicoba loh!

Tahukah moms, si kecil ternyata semenjak lahir sudah mulai bisa berempati. Hal ini ditunjukkannya dalam bentuk tangisan atau ‘rewelan’. Ketika ia merasa moms sedih dan stres, ia akan ikut stres juga. Jadi, sederhananya, moms jangan marah atau sedih di depan si kecil ya, biar dia nggak ikut sedih juga.

Ayo hibur ia dengan mainan yang edukatif secara IQ dan EQ. Moms silahkan mampir ke kategori mainan bayi Blibli.com untuk menemukan yang cocok membantu moms menumbuhkan kemampuan berempati!

Ruth

Ruth

Happy mommy of twin 3yo, living in Jakarta and working for digital media company.

That's why I like to doing some research and asking for some opinion to my friends via social media, messenger apps, or even small gathering at cafe.

I’m living in a daily activity filled with innovative books about parenting and interior that come bundled with extra hot chocolate marshmallow and home-made cake.
Ruth

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY