Fakta-Fakta Butet dalam 24 Tahun Karir Bulutangkisnya

Butet mengucapkan selamat tinggal pada Badminton Lovers

“Kekalahan itu tidak memalukan. Yang memalukan itu adalah menyerah.” – Liliyana Natsir

Pesan Butet untuk para juniornya itu mungkin masih akan terus terngiang-ngiang pada para Badminton Lovers yang hadir di acara Farewell Butet sebelum babak final turnamen Indonesia Masters di Istora Senayan, Jakarta.

Liliyana Natsir, yang akrab disapa Butet ini adalah salah satu pebulutangkis putri terbaik Indonesia. Mungkin saking biasanya kita melihat Butet di layar kaca saat pertandingan membela Indonesia, kita gak sadar bahwa Butet ternyata sudah berkarir selama 24 tahun dalam badminton Indonesia. Biar sama-sama inget, yuk kita ingat-ingat lagi fakta prestasi Butet yang pensiun dengan kenangan berbagai gelar juara bergengsi, jadi sejarah bangsa yang abadi.

1. Mengawali karir dari klub bulutangkis di Manado

Semua prestasi Butet adalah hasil kerja kerasnya yang menggeluti bulutangkis sejak usia 9 tahun dengan berabung di Klub Pisok, salah satu klub bulutangkis di Manado. Usia 12 tahun, Butet memutuskan pindah ke Jakarta untuk bergabung ke klub PB Tangkas. Tahun 2014, Butet masuk PB Djarum.

2. Menapaki karir di Pelatnas Cipayung sejak 2002

Sejak masuk Pelatnas Cipayung tahun 2002, Butet sudah menunjukan bakatnya di nomor ganda campuran. Bersama Markis Kido, ia menjuarai Kejuaraan Asia Junior dan Indonesia Open Junior 2002.

3. Beberapa kali ganti pasangan, mengharumkan nama bangsa

Tahun 2004, Butet ditunjuk untuk menggantikan Vita Marissa sebagai pasangan Nova Widianto. Sejak itulah berbagai gelar prestisius berhasil dipersembahkan Nova/Butet. Pasangan ini menjuarai Kejuaraan Dunia 2005 di Ahahem, Los Angeles, Amerika Serikat, jadi juara dunia ganda campuran di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 2007, medali perak di Olimpiade Beijing 2008, juara Malaysia Open SS 2009, French Open SS 2009, medali emas SEA Games 2009, dan runner up Kejuaraan Dunia 2009.

Butet juga sempat berpasangan dengan Vita Marissa di nomor ganda putri hingga meraih emas SEA Games 2007, juara China Masters Super Series 2007 dan Indonesia Open Super Series 2008.

Tahun 2010 menjadi awal karir Owi/Butet dengan langsung menjadi juara dunia di Macau Open GPG 2010. Setelah itu, prestasi mereka melambung: juara All England 2012, All England 2013, juara dunia di Guangzhou, Tiongkok tahun 2013, All England 2014, Emas Bulutangkis Indonesia di Olimpiade Rio De Janeiro 2016, Indonesia Open Super Series Premier 2017 di JCC Senayan, Kejuaraan Dunia 2017 di Glasgow, dan menjadi juara Blibli Indonesia Open 2018 di Istora Senayan.

4. Tiga kali juara All England

Owi/Butet berhasil menuai hasil manis hat-trick setelah Indonesia 33 tahun puasa gelar, sejak Christian Hadinata dan Imelda Wiguna menjadi juara tahun 1979. Prestasi Owi/Butet menjadi juara turnamen badminton tertua di dunia ini tidak boleh kita lupakan: All England 2012, All England 2013, dan All England 2014!

5. Menghapus stigma tak pernah menang di Istora dengan menjadi juara Blibli Indonesia Open 2018

Tahun 2018 juga menjadi tahun penting bagi Owi/Butet di Blibli Indonesia Open 2018. Mereka berhasil mematahkan kutukan tak pernah menang di Istora Senayan! Apalagi Blibli Indonesia Open 2018 menjadi pertandingan Indonesia Open edisi terakhir bagi Butet.

Nah itu dia fakta-fakta soal Butet yang harus kita ingat bersama. Final Indonesia Masters tanggal 27 Januari 2019 memang pertandingan terakhir bagi Butet. Tapi kenangan akan semangat pantang menyerahnya akan selalu dikenang, baik untuk para junior maupun kita, Badminton Lovers di seluruh Indonesia.

Oh iya, kalau kamu nonton acara Farewell Butet yang ramai di media sosial dengan hashtag #ThankYouButet, kamu pasti liat Butet yang memberikan pidato dalam balutan jaket merah bertuliskan namanya. Kalau kamu pengen punya juga jaket Butet, kamu bisa membelinya di Blibli.com lho!

Li Ning Liliyana Natsir Jaket Badminton
Li Ning Liliyana Natsir Jaket Badminton

KLIK DI SINI UNTUK MENGOLEKSI JAKET BUTET YANG BISA DIBELI DI BLIBLI.COM

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY