Band Indie 90 dan 2000-an yang CD-nya Layak Dikoleksi

Orang di scene indie pasti sering bilang salah satu cara untuk support your local band adalah dengan membeli rilisan fisiknya termasuk CD. Nah, enggak ada salahnya jika kamu juga mendukung musisi lokal indie dengan membeli CD-nya.

Ingin tahu musisi atau band-band indie yang membangun scene pada era 2000-an, berikut ini lima di antaranya.

Efek Rumah Kaca

Setelah album JKT:SKRG rilis pada 2004, Efek Rumah Kaca melanjutkan gerilya musisi-musisi indie mendobrak selera pasar yang ‘dijejali rasa yang sama’. Album Efek Rumah Kaca s/t yang keluar pada 2007 jadi milestone. Di tengah keseragaman musik mendayu-dayu yang tayang di stasiun tv lokal, Efek Rumah Kaca muncul dengan kritik pedasnya lewat lagu “Cinta Melulu”. Topik yang diangkat personal, tapi dirasakan nyaris semua penggemar musik. Bukan cuma itu, Efek Rumah Kaca juga melahirkan “Di Udara”, anthem protes yang dinyanyikan tiap kali demo memperingati meninggalnya aktivis HAM Munir.

Deadsquad

Setelah band Siksakubur membawa gelombang pertama death metal pada akhir 1990-an, Deadsquad meneruskan panji-panji tersebut di Ibu Kota. Band yang dimotori gitaris Stevie Item ini membawa death metal Jakarta ke level lebih tinggi dengan skill dan karakter unik. Enggak heran pada 2017, Deadsquad menyabet Anugerah Musik Indonesia Awards untuk Karya Produksi Metal/Hardcore Terbaik lewat lagu “Pragmatis Sintesis”. Album Tyranation yang memuat lagu tersebut menjadi tanda bahwa Deadsquad tetap perkasa meski dihantam gonjang-ganjing gonta-ganti personel. Temanya masih tetap pada benang merah apokalips dan sejenis.

Superglad

Embrio Superglad berasal dari puing-puing band pionir indie Waiting Room. Lukman Buluk, Agus Purnomo, maupun Dadi adalah eks band Waiting Room. Jika Waiting Room tampil dengan musik rock yang manis, Superglad muncul dengan musik yang lebih ugal-ugalan. Ada unsur punk hingga hardcore di sana. Setelah memunculkan mini album Laki-laki, Buluk dkk. menelurkan “Superglad”, “Ketika Hati Bicara”, “Flamboyan”, “Never Die”, “Cinta Nafsu”, dan “Berandalan Ibukota”. Album Cinta Nafsu sempat masuk nominasi Album Rock Terbaik pada Anugerah Music Awards 2012. Cinta Nafsu menandakan kembalinya Buluks pasca berkabung setelah ditinggalkan istri tercintanya.

Shaggydog

Ketika band-band beraliran serupa seperti Tipe X mulai sayup-sayup terdengar lantaran tren berganti, Shaggydog tetap berdansa bersama melantunkan musiknya. Band Yogyakarta yang lahir di kawasan Sayidan ini mengaduk unsur musik ska yang dominan dengan reggae, rock, dan lain-lain. Berkat konsistensi Heruwa dkk., Shaggy Dog diundang tur ke Australia hingga Belanda. Album yang menandakan kematangan musik Shaggydog bisa terdengar di Kembali Berdansa.

Cupumanik

Kurt Cobain, Layne Staley, Chris Cornell sudah meninggal, tetapi bukan berarti musik grunge mati. Cupumanik contoh yang berhasi mempertahankannya. Band Bandung yang lahir pada 1996 ini masih setia mengusung Seattle sound dengan unsur-unsur yang mengikuti perkembangan zaman bersama band-band macam Navicula dll. Memulai debut lewat album Self Titled pada 2005, Che dkk masih tampil dengan lagu-lagu yang berat dan terkadang spiritualis. Album Menggugat yang rilis 2014 lalu menjadi contohnya.

KAMU BISA MEMUTAR SEMUA CD MUSIK TERSEBUT DI DALAM MOBIL

Gimana kamu sudah koleksi album-album para musisi indie era 2000-an tersebut?

Rio

Digital agency’s worker, amateur internet scholar, professional gamer also very in love of running in a field and swimming. A community person who loves touring with bike or motorcycle.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY