me

Apa Itu Konsumtif? Cermati Ciri-Ciri dan Dampaknya!

Aug 10, 2022.By Blibli Friends
Bagikan

image source: www.pexels.com

Karena kebutuhan semakin bertambah ditambah daya beli masyarakat juga semakin tinggi, ini menyebabkan gaya hidup konsumtif dimiliki banyak orang. Sebenarnya apa itu konsumtif, apa saja contoh perilakunya dan apa dampaknya? Yuk, simak penjelasannya di sini.

BACA JUGA : Mengenal Apa Itu Investasi Lebih Jauh untuk Pemula


Pengertian Konsumtif

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsumtif adalah kata sifat yang artinya hanya mengonsumsi, hanya memakai, dan tidak menghasilkan sendiri. Perilaku konsumtif adalah sering membelanjakan uang tanpa pertimbangan yang baik dan matang. Alhasil, barang yang sudah dibeli banyak yang akhirnya nggak terpakai dan jadi percuma.

Sedangkan gaya hidup konsumtif adalah tindakan menggunakan suatu produk secara tuntas. Jadi satu produk belum habis digunakan, tapi sudah menggunakan produk lain yang fungsinya kurang-lebih sama. Bisa juga diartikan sebagai berbelanja secara boros dan hanya berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan. Jadi membeli barang tanpa pakai skala prioritas.

Perilaku konsumtif sebenarnya sudah ada sejak dulu. Tapi sekarang peluangnya makin terbuka lebar dengan adanya belanja online. Sebenarnya belanja online adalah fasilitas positif yang bisa membawa dampak baik jika kita sebagai konsumen mampu memanfaatkannya dengan bijak. Kita nggak perlu repot keluar rumah, tanpa ongkos transportasi, tapi tetap bisa belanja.

Belanja online bisa berdampak baik kalau konsumen bisa memilah-milah belanja sesuai skala prioritas. Tentu sesekali berbelanja untuk keinginan boleh saja, asalkan barang yang dibutuhkan sudah terbeli. Dengan begitu, perilaku konsumtif bisa dihindari.

Contoh Perilaku Konsumtif

Contoh perilaku konsumtif bisa dibagi menjadi 5 yaitu:

1. FOMO

Fear of Missing Out (FOMO) biasanya melanda anak muda, tepatnya usia remaja hingga dewasa muda. Tapi bukan berarti orang dewasa nggak bakal terkena FOMO, lho. Ada juga kok orang dewasa yang merasakan hal ini. FOMO adalah perasaan kuatir bahkan takut ketinggalan sesuatu. Entah itu pakai barang keluaran terbaru, mencoba tempat liburan baru, dan masih banyak lagi.

Perasaan takut nggak terlihat trendi ini pastinya erat banget hubungannya dengan perilaku konsumtif. Karena tiap ada barang baru dirilis, kita merasa harus memiliki atau harus mencoba. Pasti butuh uang untuk memenuhinya. Padahal sebenarnya rasa FOMO nggak perlu dipenuhi. Tapi karena selalu kuatir, akhirnya nggak peduli menghabiskan banyak uang cuma untuk hal-hal yang kurang penting.

Misalnya ada tren baju tertentu. Sebenarnya kita nggak suka dengan model baju itu dan setelah dicoba pun terlihat kurang cocok dengan proporsi tubuh kita. Tapi ada perasaan kuatir ketinggalan jaman, jadi tetap beli produknya. Kebiasaan ini terus berlanjut tiap kali ada produk baru.

2. Beli Produk Cuma Karena Iklan

Sebenarnya memang tujuan iklan untuk promosi. Iklan dianggap sukses kalau konsumen yang membeli produknya meningkat. Wajar saja kalau konsumen tertarik membeli produk setelah menonton, mendengar, atau melihat iklan di berbagai media. Asalkan nggak terlalu sering dilakukan. Jadi tiap lihat iklan baru, tidak langsung cari produknya dan langsung membeli.

Ini berubah jadi konsumtif kalau tiap kali kita melihat iklan kita langsung berkeinginan mencari produk tersebut dan membelinya. Padahal begitu dibeli ternyata nggak ada gunanya. Malahan banyak barang yang akhirnya terbuang sia-sia.

3. Beli Barang Karena Gengsi

Perilaku gengsi ini makin meningkat semenjak maraknya sosial media. Kini sosial media jadi ajang pamer pakai barang-barang mahal, makan dan hang out di tempat trendi dan mahal, sampai liburan mewah. Nggak bisa dipungkiri, unggahan semacam ini menimbulkan rasa iri bagi yang melihatnya.

Sebenarnya nggak ada salahnya mengeluarkan uang untuk menghibur diri setelah sekian lama bekerja keras. Tapi ini jadi konsumtif kalau dilakukan hanya karena gengsi. Biar kelihatan keren, kita liburan ke destinasi tertentu, lalu foto-foto dan diunggah. Padahal sebenarnya kita nggak terlalu kepingin liburan ke sana dan nggak butuh juga.

4. Gaya Hidup Mewah

Sebenarnya kalau kita mampu dan memang butuh, gaya hidup mewah itu nggak ada salahnya. Masalahnya, kemampuan tiap orang berbeda-beda. Nggak semua orang mampu menjalani gaya hidup ini. Jadi sebaiknya sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Mau pakai barang serba branded, pakai gadget termahal, selalu makan di restoran mewah, dan liburan ala selebriti Hollywood, sah-sah saja. Asalkan kita punya modalnya dan sudah punya simpanan dan investasi yang cukup. Tapi kalau tidak punya modal dan dipaksakan, inilah yang disebut konsumtif.

5. Beli Barang Karena Status

Ini sering terjadi di kalangan atas dan konglomerat. Karena sudah punya status sebagai orang kaya, jadi banyak yang harus membeli produk terbaru dan termahal hanya karena status. Padahal sebenarnya mereka nggak terlalu butuh. Ada juga yang harus melakukan ini karena profesi mereka yang dianggap “wah”. Jadi kalau mereka nggak pakai produk termahal, mereka merasa bakal dianggap rendah.

Dampak Perilaku Konsumtif

Kalau perilaku konsumtif dibiarkan, ini bisa menyebabkan gangguan, karena kita akan merasa selalu ada yang kurang kalau nggak belanja dan menghabiskan uang. Jadi kita sadar kalau nggak butuh, tapi karena “gatal” ingin belanja, jadi tetap dibeli saja. Tentu ini sudah nggak normal dan bisa menyebabkan kondisi finansial kita memburuk.

Perilaku konsumtif kalau terjadi pada konglomerat mungkin nggak akan terlalu berdampak besar. Tapi bagi kebanyakan orang, ini berdampak buruk pada keuangan. Bisa-bisa kita jadi nggak punya tabungan. Jangankan investasi, menyisihkan gaji untuk menabung saja nggak bisa. Tiap bulan gaji selalu ludes nggak bersisa dan merasa kurang meski sebenarnya gaji mengalami peningkatan secara stabil.

Lebih buruknya lagi, kalau ternyata kita sampai berhutang untuk memenuhi gaya hidup konsumtif. Berhutang sebenarnya oke-oke saja asal untuk kebutuhan primer dan cicilannya sesuai dengan kemampuan kita. Tapi kalau berhutang untuk produk yang nggak penting-penting amat dan sering dilakukan, tentu jadi nggak sehat.

Kalau sudah nggak punya tabungan dan terjerat hutang, akibatnya jdi jauh lebih sulit untuk punya rencana di masa depan. Atau sebenarnya kita sudah rencana, tapi jadi hancur berantakan karena modalnya nggak pernah terkumpul.


BACA JUGA : Investasi Jangka Panjang? Berikut Pengertian dan Jenis-jenisnya

Voucher Investasi P2P Lending di KoinWorks (Rp 450.000)

Nah, itu dia Blibli Friends pengertian dari apa itu konsumtif beserta dengan contohnya. Daripada menghamburkan penghasilan kita untuk gaya hidup konsumtif, sebaiknya mulai berinvestasi sejak muda. Apalagi sekarang kita sudah bisa berinvestasi secara digital. Jadi investasi bisa dilakukan dimanapun dan kapan pun, dengan biaya yang terjangkau pula. Blibli Friends bisa mendapatkan berbagai instrumen investasi di Blibli.

IndoGold Emas Digital Voucher (Rp1,000,000)

Investasi yang kekinian misalnya PP2P Lending. Dapatkan Voucher Investasi P2P Lending di KoinWorks [Rp 450.000] dengan harga Rp 26.000 saja. Atau mau investasi emas digital yang tingkat likuiditasnya tinggi? Bisa pilih IndoGold Emas Digital Voucher (Rp 1,000,000) yang bisa kamu dapatkan seharga Rp 1 juta. Masih banyak lagi pilihan instrumen investasi lainnya. Yuk, cek variannya segera!

Tag: