“Seriusan, lo belum pernah masuk GKJ (Gedung Kesenian Jakarta)? Wah, itu suasananya “angker” banget, Dek! Mulai dari pintu masuk aja, udah kerasa kalau gedung ini punya daya magis untuk menampilkan pertunjukan seni,” ungkap seorang rekan yang sudah malang-melintang di dunia seni dan hiburan pada acara Press Conference A Night at Schouwburg yang diselenggarakan di sebuah kafe di kawasan Kemang, Jakarta, Kamis 16 Nov 2017 kemarin.

Penasaran dengan istilah “angker” dan “magis” yang dibicarakan olehnya, saya pun mendalami pengetahuannya tentang Theater Schouwburg Weltevreden yang telah berdiri sejak 1821 tersebut.

Via Taman Ismail Marzuki.com

“GKJ adalah salah satu gedung dengan akustik dan desain paling bagus yang pernah ada di Indonesia; oleh karenanya pertunjukan seni yang tampil di sana akan memberi aura magis luar biasa. Ditambah dengan aturan-aturan yang sudah menjadi tradisi, macam; pemukulan gong, penarikan tirai sampai kurasi penampil oleh Dewan Kesenian Jakarta, membuat pertunjukan yang diadakan di GKJ menjadi lebih “angker” dari panggung lain,” pungkasnya.

Setelah ngobrol santai tersebut, dirinya pun berpamitan karena harus menjadi narasumber untuk event Press Conference yang menjadi kelanjutan dari A Night at Schouwburg berawal dari pertunjukan NAIF pada tanggal 20 September 2008 silam.

Benar saja, pada acara tersebut, NAIF lewat Emil berujar jika manggung di GKJ adalah momen terbaik di karirnya. “Sampai berminggu-minggu setelahnya masih terasa dan terus diobrolin sama anak-anak Naif. Gue pengen band-band lain ngerasain apa yang gue rasain, ngerasain panggung terbaik di karir mereka,” ungkap sang pembetot bass.

Suasana Press Conference A Night at Schouwburg

Oleh karenanya, Emil bersama rekan-rekannya; Coki Singgih, Chico Hindarto dan Aria Baja, membentuk kolektif Jababa, dan memutuskan untuk menjalankan konsep malam pertunjukan musik di Schouwburg tersebut secara berkala.

Yap, bagi yang ketinggalan A Night at Schouwburg versi NAIF, jangan sampai kelewatan versi terbarunya yang akan berlangsung pada tanggal 17 Desember 2017 nanti, nih! Karena, trio cadas asal Jakarta yaitu Kelompok Penerbang Roket (KPR) akan tampil dan rekaman secara Live.

“A Night at Schouwburg akan menjadi show tunggal pertama dan terpanjang kami. Akan ada lagu-lagu yang belum pernah dibawakan secara live, lagu-lagu lama dengan aransemen baru, dan beberapa hal yang belum pernah kami eksekusi sebelumnya,” terang Viki, penabuh drum KPR.

Well, kalau dilihat dari karakter musik dan persona “liar” yang lekat pada KPR, bisa jadi A Night at Schouwburg mendatang akan mencatat sejarah bagi dunia seni Indonesia. Pasalnya, GKJ yang telah menjadi saksi bagi banyak pertunjukan budaya bersejarah, tidak banyak mencatat pertunjukan musik populer, apalagi dengan bunyi penuh electric yang hingar bingar seperti yang dimiliki KPR. “Bahkan Metallica harus membawa orchestra untuk bermain di gedung kesenian,” ungkap Emil dalam suatu kesempatan.

Foto Bersama Panitia, Kelompok Penerbang Roket dan Blibli.com

Pada Press Conference kali ini, panitia pun mengumumkan harga invitation yang nantinya akan dijual melalu official partner A Night At Schouwburg, yakni Blibli.com. Dirilis hanya untuk 400 invitation, berikut adalah detail paketnya:

Pencarter Roket II, Rp 500.000 (T-shirt & Double CD)

Pencarter Roket I, Rp 850.000 (T-Shirt & Double Vinyl)

Penerbang Roket, Rp 1.200.000 (T-shirt, Double CD, Double Vinyl, Pin)

Uniknya, semua T-shirt akan dicetak bersama nama penonton di masing-masing T-shirt tersebut secara terbatas. Sementara untuk perilisan CD dan piringan hitam akan dilakukan pada Februari 2018 sekaligus pengumuman nama musisi A Night At Schouwburg berikutnya.

So, tunggu apalagi? Ayo, jadilah saksi sejarah musik rock Indonesia yang akan menggeber Gedung Kesenian Jakarta!

KLIK DI SINI BUAT BELI PAKET KONSER A NIGHT AT SCHOUWBURG KELOMPOK PENERBANG ROKET

 

Kadek

Kadek

Football for life, listen to Punk Rock and a "Red blood and White bones" person. A day without laughs is wasted for me.
Kadek

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY