5 Things You Need to Know Before Your Baby is Born

Photo via pexels.com

Kelahiran si Kecil pasti menjadi momen yang sangat ditunggu Bubu dan Pak Suami ya. Spesial? Tentu. Mudah? Belum tentu. Pengalaman menyambut kehadiran bayi baru dalam keluarga akan membutuhkan berbagai penyesuaian. Supaya Bubu dan Pak Suami dapat mengantisipasi tantangan yang mungkin muncul dan lebih santai menghadapinya, serta tidak terlalu banyak berandai “Ah coba dulu tahu yaa..” yuk simak tips berikut ini.

  1. ParenTeam will make parenting life easier

Memiliki anak akan membuat berbagai aspek kehidupan Bubu dan Pak Suami berubah, termasuk kualitas hubungan dengan pasangan dan juga well being masing-masing diri orang tua (Cowan & Cowan, 1995). Salah satu faktor yang dapat meminimalisasi konflik dan mengurangi stress adalah bila Bubu dan Pak Suami sudah punya sepaham tentang nilai-nilai dan gaya pengasuhan yang mau dijalani. Diskusikan bersama terkait pandangan terhadap peran ibu dan ayah dalam keluarga, manajemen waktu antara anak, kerja, dan urusan rumah tangga lainnya, siapa dan apa saja bentuk support system yang dimiliki, strategi menghadapi kritik/ anjuran yang tidak diinginkan dari teman/ keluarga besar, menurunnya kedekatan emosional dan fisik dengan pasangan, maupun harapan serta kekhawatiran lainnya. Ingatlah selalu bahwa Bubu dan Pak Suami adalah sebuah tim, dan perlu mengusahakan agar menjadi tim yang kompak! Akan lebih pula Bubu dan Pak Suami sudah melakukan diskusi ini sebelum si Kecil lahir ya.

  1. Bonding doesn’t always happen instantly, and that’s okay

Cerita-cerita tentang ‘love at first sight’ saat melihat bayi untuk pertama kalinya dapat membuat Bubu dan Pak Suami memiliki ekspektasi tertentu. Namun ada baiknya mengetahui bahwa tidak semua orang tua langsung memiliki kelekatan emosional dengan si Kecil saat lahir. Bonding bisa terjadi dalam hitungan menit, jam, minggu, maupun bulan. Survey yang dilakukan National Childbirth Trust UK (2016) menemukan bahwa 32% ibu baru menemui kesulitan untuk bonding dengan bayinya. Bila Bubu dan Pak Suami nanti mengalami hal ini, tidak perlu merasa malu dan berlarut dalam rasa bersalah. Ada cara-cara yang dapat dilakukan untuk mendukung terbentuknya bonding dengan si Kecil, seperti perbanyak kontak fisik (menggendong, memijat, memandikan, memeluk, menyusui) dan perbanyak waktu bermain / berkegiatan bersama. 

  1. Baby cries a lot, and it’s not your fault

Bayi baru lahir mengomunikasikan kebutuhannya dengan menangis. Mungkin Bubu dan Pak Suami tidak selalu langsung tahu apa yang menjadi kebutuhannya sehingga butuh beberapa waktu untuk menenangkannya, yang kadang kala memunculkan perasaan bersalah dan kurang percaya diri sebagai orang tua. Temperamen bayi juga bisa mempengaruhi, ada bayi yang memang emosinya lebih intens dan sulit ditenangkan, serta lebih rewel dan lebih mudah terganggu dengan stimulus lingkungan. Faktor biologis/ bawaan lahir turut berperan dalam pembentukan temperamen ini. Percayalah, semakin lama menghabiskan waktu dengan si Kecil, pasti Bubu dan Pak Suami akan semakin mengenal dan menemukan celahnya.

  1. Me time doesn’t mean “I am more important”. It means “Me, too!”

Menurut New Moms Speak Out Survey (Childbirth Connection, 2014), 81% ibu baru menyatakan merasa kelelahan di 2 bulan pertama sebagai ibu. Data lainnya dari State of Motherhood Survey (Motherly, 2020), 68% ibu dengan anak batita memiliki waktu <1 jam untuk dirinya sendiri. Padahal, me time itu penting lho Bubu. Keinginan me time bukan berarti egois atau tidak sayang anak, tapi diperlukan agar kesehatan mental Bubu terjaga. Bila Bubu Bahagia, maka akan lebih menikmati peran dan menemukan makna sebagai ibu, lebih responsif pada kebutuhan anak, dan lebih kuat menghadapi segala tantangannya. Bubu dapat membuat jadwal harian, mingguan, atau bulanan dimana ada waktu-waktu untuk Bubu me time, dari sekedar sarapan dengan santai tanpa diburu-buru, leyeh-leyeh nonton drakor selama 1 jam, atau yang butuh waktu lebih lama seperti ke salon / gym (jangan lupa prokes ya di masa pandemi ini).

  1. Beware of social media competition

Media sosial bisa memiliki pengaruh yang positif maupun negatif pada ibu baru. Di satu sisi, media sosial membuat ibu baru merasa mendapat dukungan dalam masa transisi menjadi orang tua, terutama yang secara geografis terpisah jarak dari keluarga dan teman dekat (Brady & Guerin, 2010). Partisipasi di media sosial dan grup online juga bisa membantu Bubu untuk saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman tentang tumbuh kembang anak (Gibson & Hanson, 2013). Di sisi lain, media sosial juga bisa membuat tingkat stress orang tua meningkat (Bartholomew dkk, 2012). Media sosial bisa menjadi tekanan tersendiri ketika orang tua melihat postingan orang tua lainnya. Secara tidak sadar, orang tua bisa hanyut dalam kompetisi terkait tumbuh kembang dan pengasuhan yang dilakukan. Oleh karen itu, Bubu dan Pak Suami tetap perlu bijak menggunakan media sosial ya. Tetap yakini bahwa setiap anak itu unik dan punya potensi masing-masing. Nikmatilah momen-momen bersama si Kecil dan beri dukungan sesuai kebutuhannya.

Oleh: Orissa Anggita Rinjani, M.Psi, Psi
Expert Partner Sahabat Ibu Pintar
Referensi:
Bartholomew, M. K., Schoppe-Sullivan, S. J., Glassman, M., Dush, C. M. K., & Sullivan, J. M. (2012). New parents’ Facebook use at the transition to parenthood. Family Relations,
61(3), 455-469. doi:10.1111/j.1741-3729.2012.00708.x
Brady, E., & Guerin, S. (2010). “Not the romantic, all happy, coochy coo experience”: A
qualitative analysis of interactions on an Irish parenting web site. Family Relations,
59(1), 14-27. doi:10.1111/j.1741-3729.2009.00582.x
Cowan, C. P., & Cowan, P. A. (1995). Interventions to ease the transition to parenthood: Why they are needed and what they can do. Family Relations, 44(4). 412-423. doi:10.2307/584997
Gibson, L., & Hanson, V. L. (2013). ‘Digital motherhood’: How does technology support new mothers? Proceedings of the SIGCHI Conference on Human Factors in Computing Systems, 313-322. doi:10.1145/2470654.2470700
https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2016/jun/06/one-third-of-new-mothers-struggle-to-bond-with-their-baby-research-shows
https://www.mother.ly/news/state-of-motherhood-survey
https://www.nationalpartnership.org/our-work/resources/health-care/maternity/listening-to-mothers-iii-new-mothers-speak-out-2013.pdf

 

Ruth

Happy mommy of twin, living in Jakarta and working for a digital media company. That's why I like to do some research and asking for some opinion to my friends via social media, messenger apps, or even small gathering at a cafe.

I’m living in a daily activity filled with innovative books about parenting and interior that come bundled with extra hot chocolate marshmallow and home-made cake.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY