Beranda Ujung Kulon
Pemandangan Pertama Ketika Tiba di Ujung Kulon

Tidak ada kata tidak menajubkan yang kamu temukan di Ujung Kulon. Surga di ujung Pulau Jawa ini memberikan ketenangan yang tak terbatas.

Visual utama yang kamu ciptakan ketika mendengar orang mengucap Ujung Kulon pasti Badak Jawa bercula satu yang muncul di kepala bukan. Binatang pemalu ini memang sudah menjadi primadona daerah Ujung Kulon sejak ditemukan oleh Belanda. Namun satu hal yang belum kamu ketahui mungkin adalah keindahan yang tidak pernah terbayangkan. Kebanyakan orang berpikir daerah ini hanya dipenuhi dengan hutan saja. Pikiran itu sama dengan saya, Taman Nasional Ujung Kulon hanya merupakan hutan belukar yang memiliki badak yang hampir punah tersebut. Ternyata saya salah besar. Dengan begitu saya dengan rasa keingintahuan saya travelling-lah ke tempat tersebut. Setelah tiga hari saya menghabiskan waktu berkeliling, saya bisa umumkan, Ujung Kulon tidak kalah dengan panorama Gili dan Lombok.

Dimula dengan tujuh jam perjalanan dari Jakarta menuju desa Taman Jaya, tempat dimana saya untuk berlayar menuju Pulau Peucang. Perjalanan menuju pulau tersebut memakan waktu dua setengah jam (tergantung kamu menyewa kapal yang seperti apa). Ada dua variasi dalam mencoba alam Ujung Kulon, satu dengan berkemah dan menikmati alam belukar Taman Nasional dan Penginapan di Pulau Peucang untuk menikmati trekking dan keindahan laut sekitarnya. Saya memilih untuk berpantai dengan beberapa pilihan untuk menikmati alam laut. Untuk diketahui kamu harus booking terlebih dahulu (terlebih pada weekend) untuk penginapan, bisa-bisa kamu terdampar dan seadanya disana. Penginapan di Peucang terbagi empat pondok dengan variasi harga. Tapi ingat jangan membayangkan kamu mendapat luxury yang ada disini, karena semua serba minim dan sederhana, contohnya listrik saja baru menyala pada jam enam sore hingga tujuh pagi untuk menghemat. Begitu pula dengan air.

Semua ketentuan diatas tidak mengurungkan niat saya. Karena ketika saya menginjakan kaki di pulau tersebut, tidak ada kata selain indahnya panorama di Peucang. Semua terbayarkan dengan letihnya perjalanan. Pulau Peucang dengan luas 450 hektare ini lokasi yang paling diminati oleh pengunjung. Penawaran seperti trekking, padang pengembalaan, wisata bahari yang tiada tandingnya sangat memukau saya dan tentunya pengunjung lain. Hari pertama ini saya buka dengan menuju Trekking Cibom di Tanjung Layar untuk melihat bangunan tua mercusuar yang dimana saksi tsunami pada meletusnya Krakatau dahulu. Saya jalan hampir setengah jam menyusuri kedalam. Disarankan kamu membawa sepatu daripada sandal, karena banyaknya medan yang tidak bisa mengandalkan sandal. Seperti saya, sok tahu pakai sandal, alhasil putus dan saya harus telanjang kaki kembali menuju kapal. Tak apa, semua terbayarkan dengan pesona ujung pulau Jawa yang tinggi, penuh karang besar dan indahnya padang rumput beserta matahari terpendam yang tak bisa terbayarkan oleh apapun.

Babi Hutan

Jangan kaget apabila banyak babi hutan, rusa, dan monyet (hati-hati, monyet disana usil) yang lalu lalang. Memang mereka sudah biasa berada di tengah manusia. Saya bahkan terkadang merasa seperti di Taman Safari. Kemudian hari kedua saya awali pagi saya dengan menuju penggembalaan Cidaon yang dimana merupakan padang para satwa menyantap rerumputan. Disini dikenal dengan pengamatan satwa seperti Banteng, burung Rangkong, Kera ekor panjang, dan burung merak. Jadwal mereka muncul juga dari jam 6 โ€“ 8 pagi dan 5 โ€“ 6 sore apabila kamu ingin melihat mereka berkumpul, as for me, saya berkesempatan melihat sekumpulan banteng, merak, dan tentunya burung Rangkong sedang terbang lalu lalang.

Hari saya lanjutkan dengan snorkeling di kawasan pulau Peucang. Salah satu andalannya adalah air disini biru jernih dan hijau terang. Lalu pasir putih bak seperti terigu daripada pasir membuat daya tarik sendiri. Banyak sekali biota laut yang indah, tapi harap bersabar dengan sengatan ubur-ubur kecil yang sedikit menganggu. Kemudian kawanan ikan besar dan ikan hias yang lalu lalang mengingatkan kita untuk terus membudidayakan warisan alam Indonesia untuk tetap terjaga. Belum lagi kamu akan melihat gurita, barakuda, dan bintang laut yang masih ada disini, dekat dengan jarak pantai. menakjubkan!

Sunset at Ujung Kulon

Hari kedua itu saya tutup dengan ingin melihat terbenamnya matahari di Karang Copong (bolong) melalui trekking di Pulau Peucang. Kurang lebih bolak balik mencapai satu jam perjalanan dengan jarak 3km. Percaya sama saya, selama kamu trekking didalam hutan tropis daratan rendah ini kamu banyak menjumpai fenomena Krakatau di tahun 1883 lalu. Kita menempuh ke arah barat terdapat pohon-pohon besar seperti pohon Kiara, dan diujung ada karang Gunung Koling. Karang besar ini sangat cocok untuk menutup hari liburan kita disana. Jangan lupa untuk bawa senter besar, karena ketika jalan pulang, hutan akan gelap gulita (tenang saja, jalur trek akan nampak jelas di daratan).

Apa yang indah di hari terakhir saya ialah Canoing di pagi hari sekitar Pulau Peucang, cerah namun teduh dan tidak berarus besar membuat traveling saya kali ini lengkap. Apabila kamu mencari ketenangan, Ujung Kulon adalah jawaban yang tepat. Karena disini semua serba tenang, bahkan kamu dapat mendengar burung-burung bernyanyi dari kejauhan. Enjoy west Java with peace!

 


6 COMMENTS

    • Bukan keren lagi Bro Ben, menajubkan! Saya gak keberatan kesana lagi, apalagi sinyal gsm gak akan ada. Bener-bener bisa menikmati liburan tanpa gangguan.

    • ooo begitu ya haha..maafin ya, soalnya kemarin liat di setiap perbatasan masih Jawa Barat. But noted!
      Thanks juga, Ujung Kulon is one of the best diIndonesia ๐Ÿ™‚

LEAVE A REPLY