Urban Runner
pic Corbis

Bangun jam 5 pagi dibantu alarm, ganti baju lari pake sepatu, stretching, lari selama 45-60 menit dan balik ke rumah untuk siap-siap memulai kegiatan rutin. Atau menunggu jam pulang kantor untuk memulai rutinitas lari Anda…itu juga kalo ngga lembur. Situasi yang familiar?

Untuk kita yang hidup diperkotaan, dengan segala macam kondisi jalan dan trafik-nya menjadikan lari di sekeliling tempat tinggal/beraktifitas kita menjadi pilihan yang masuk akal. Menghemat waktu, bensin dan uang. Tapi kondisi ini pun bukannya tanpa risiko, seperti anjing tetangga yang galak, motor-motor yang suka nyari jalan tikus dengan masuk ke komplek dan tentu saja polusi udara.

Hal yang saya sebutkan terahir adalah hal utama yang menjadi masalah. Kita, manusia tidak bisa hidup tanpa udara. Dan pada kenyataannya udara di kota besar apalagi yang sesibuk Jakarta, sudah terkenal sedunia bahwa Jakarta termasuk kota di dunia yang mempunyai kualitas udara tidak baik. Dan kita sebagai pelari menjadi objek yang sangat rentan, kenapa? Karena pada saat badan kita istirahat, paru-paru kita memompa 8-10 liter oksigen per menit kedalam tubuh. Bandingkan dengan ketika kita berolahraga, paru-paru memompa 150 liter oksigen, kebayang?

Emisi gas buang kendaraan menjadi ‘penjahat’ nomor satu untuk urusan polusi udara, ditambah lagi limbah hasil pembakaran pabrik dan lainnya. Lalu apakah kita harus berhenti lari? Ada ngga sih cara untuk meminimalkan resiko polusi ini?

Ada beberapa ‘cara’ agar kita tetap bisa menikmati kegiatan yang kita sukai ini, seperti:

1. Perhatikan Cuaca.
Hari yang cerah panas tapi tidak berangin. Sebaiknya urungkan niat berlari ketika mendapati cuaca seperti ini. Karena disaat seperti, hasil pembuangan emisi gas dan lainnya sedang berjaya diudara. Anda dapat merasakannya ketika berlari, napas anda menjadi pendek.

2. Hindari Daerah dan Jam Macet.
Istilah tersebut ternyata juga berlaku buat pelari :D. Pada saat berpuluh-puluh kendaraan berhenti ditempat dan waktu yang sama dengan mesin dalam keadaan hidup…Anda pasti sudah tahu apa akibatnya bagi pernafasanAnda. Jadi, cari jalur yang lebih ‘sehat’.

3. Pilih Trek Hijau.
Saat ini sudah banyak ‘taman kota’ di sekeliling kota Jakarta ini. Seperti di BSD, Senayan, Bintaro, Pondok Indah dsb. Atau mungkin di seputar komplek perumahan Anda. Lokasi seperti ini bisa menjadi alternatif yang baik untuk melakukan rutinitas Anda.

4. Antioxidant.
Polusi udara meningkatkan kadar oksidan di tubuh kita yang bisa berakibat kurang baik bagi tubuh. Itu mengapa bagi yang suka lari di dalam kota memerlukan antioksidan lebih banyak dari orang pada umumnya, yang bisa didapat dari makanan kita seperti:

Vitamin A : Wortel, brokoli, sayur hijau, bayam, labu, hati, kentang, telur, aprikot, mangga, susu dan ikan.

Vitamin C : Lada/merica, cabe, peterseli, jambu biji, kiwi, brokoli, taoge, kesemek, pepaya, stroberi, jeruk, lemon, bunga kol, bawang putih, anggur, raspberri, jeruk kepruk, bayam, tomat dan nanas.

Vitamin E : Asparagus, alpukat, buah zaitun, bayam, kacang kacangan, biji bijian, minyak sayur, sereal.

Karotin : Beta karoten, lutein, likopen, wortel, labu, sayur sayuran hijau, buah buah berwarna merah, tomat, rumput laut.

Polipenol : Buah berri, teh, bir, anggur, minyak zaitun, cokelat, kopi, buah kenari, kacang, kulit buah, buah delima dan minuman anggur.

– dan juga suplemen makanan yang mengandung antioksidan.

Dan terahir, jangan lupa untuk diimbangi dengan tidur/istirahat yang cukup.


NO COMMENTS

LEAVE A REPLY