Menjelang ahir tahun ini saya mencoba variasi lain dari berlari…Trail Run. Berlari di trek off-road, bertemu tanah merah, kubangan air, rumput liar, tidak ada suara selain suara nafas dan langkah kita, diluar aspal jauh dari jalan yang rata dan suasana perkotaan, juga bonus pemandangan yang indah. Dan memang salah satu target saya adalah mengikuti salah satu race Trail Run ditahun depan.

Bagi kita yang biasa berlari di aspal atau di kota tentu akan kaget saat pertama kali masuk ke trek off-road. Cara berlari kita akan berbeda ketika berlari dijalan yang tidak rata, kita tidak akan bisa menemukan pace kita yang cepat di trail run ini. Selain itu juga, seluruh badan kita akan aktif bergerak karena badan dan kepala kita akan berusaha menghindar dari ranting pohon, tangan ikut membantu untuk memanjat, mata dan badan akan terus berkordinasi untuk melihat dimana kita akan menaruh pijakan di langkah berikutnya dan lain sebagainya. Yang tentunya akan sangat berpengaruh pada asupan oksigen kita.

Hal lain yang menarik dari trail running adalah, setiap trek mempunyai karakternya masing-masing sehingga kita akan selalu melakukan usaha yang berbeda dalam berlari. Bila di trek A kita bisa berlari 10km dalam waktu 1 jam 15 menit, belum tentu di trek B dengan jarak yang sama kita mendapatkan waktu yang sama, bisa lebih cepat atau bahkan jauh lebih lambat. Tidak ada pace yang pasti. Karena memang dalam trail running fokus kita di usaha yang kita lakukan untuk jarak tertentu dan pace kita secara otomatis ditentukan oleh tingkat kesulitan trek yang berbeda.

Dari beberapa kali saya melakukan simulasi race trail run ada beberapa poin yang menjadi perhatian saya, mungkin bisa berguna juga untuk Anda yang berminat untuk mencoba trail running:

1. Bila kita fokus pada pace tertentu untuk kita kejar setiap kilometernya, dapat dipastikan kita hanya mendapat kekecewaan dan tidak dapat menikmati lari kita. Karena setiap trek tidak dapat kita prediksi keadaannya. Hanya alam yang tahu. Jadi nikmati saja lari dan pemandangannya, pace akan mengikuti dengan sendirinya.

2. Bikin ruang atau jarak yang nyaman dengan pelari lain. Ini gunanya agar kita bisa berlari dengan pace kita bukan pace orang lain, apalagi ketika kita berada di single track yang sempit. Kecepatan lari kita akan bergantung pada siapa yang lari didepan kita. Kalau kita menemukan pelari yang pelan didepan kita, usahakan begitu ada kesempatan lewati orang tersebut. Begitu juga sebaliknya, bila ada pelari yang lebih cepat dibelakang kita, biarkan dia melewati Anda.

3. Usahakan pelajari dulu karakter trek yang akan kita lewati. Cari tahu dimana yang menanjak dan dimana yang menurun, berapa kilometer akan menanjak, dimana akan banyak bebatuan, bagian mana akan berlumpur dan sebagainya. Gunanya agar kita bisa mengatur strategi sehingga energi dan usaha yang kita keluarkan akan lebih efisien sehingga kita bisa finish dengan kuat.

Yang perlu diingat, setiap trek pasti akan berbeda dengan karakternya masing-masing dan unpredictable tetapi itulah yang membuat trail running sangat menyenangkan.

Untuk peralatan, yang berbeda dengan berlari di jalan aspal adalah sepatu, gunakan sepatu yang khusus untuk trail run. Karena spesifikasi sepatu trail run berbeda dengan sepatu road yang gunanya melindungi kaki kita dari trek atau medan yang tidak tertebak. Dan juga usahakan membawa minum secukupnya sendiri karena tidak ada warung apalagi “Seven Eleven” diatas gunung atau ditengah hutan dan sawah.


NO COMMENTS

LEAVE A REPLY