Melakukan perjalanan dengan cara backpacking mungkin tidak pernah disangka akan populer seperti sekarang. Buktinya, komunitas Backpacker Indonesia yang berdiri sejak Oktober tahun 2008 berkembang pesat hingga sekarang lebih dari 17.000 member tergabung di dalamnya.
Seperti yang diakui oleh Ilma Dityaningrum, seorang sarjana jurusan Antropologi Universitas Padjadjaran yang merupakan founder dari komunitas Backpacker Indonesia. Saat pertama kali memulai backpacking di tahun 2005, Ilma mengaku sering ditanya-tanya tentang kesenangannya saat itu menjelajah dengan tas punggung.

“Ih, ngapain sih bepergian sendiri? Apa serunya, sih?” adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan untuk dirinya. Bahkan, Ilma sampai kesusahan mencari informasi tentang apakah ada orang dengan hobi yang sama dengannya.
“Saat itu, hanya ada IndoBackpacker yang isinya backpacker dengan jam terbang tinggi seperti Trinity atau Mbak Elok. Untuk yang pemula, gue cari-cari belum ada. Karena ingin mencari teman bepergian dan tukar info soal backpacking lalu gue bikin grup di Facebook. Dari 100 member jadi 1000, eh, trus 10.000..” ungkap Ilma yang juga bilang kalau backpacking sekarang sudah jadi gaya hidup.
Trip to Kembangan Island [2010]
Cewek berumur 26 tahun pun mengakui saat ini memang nggak susah lagi untuk mencari orang yang mau diajak backpacking. Tinggal diracunin dengan cerita-cerita tentang indahnya suatu daerah, maka saat ini orang bakal tertarik untuk bepergian.
“Yang susah itu adalah mengajak orang untuk backpacker dengan bijak, sopan dan menaati rules-rules yang ada di daerah tujuan. Kebiasaan orang Indonesia itu jadi tamu berasa Raja. Sok keren. Menjejali budaya kota kepada penduduk lokal. Sebagai contoh, mengejek kebiasaan suku Baduy yang tidak memakai alas kaki. Padahal kita, kan harusnya bisa memposisikan sebagai tamu dan menjaga kearifan lokal,” ungkap Ilma yang bilang kalau saat ini, menjaga kearifan lokal adalah misi terbaru komunitas Backpacker Indonesia.

Yap, sesuai dengan cita-cita Ilma yang ingin industri perwisataan Indonesia bisa maju dengan mengusung kebudayaan lokal, begitu juga dengan langkah komunitas ini dalam kegiatannya. Nggak hanya mengunjungi daerah wisata untuk foto-foto, kalau jalan-jalan dengan Backpacker Indonesia, kita memang harus bisa membaur dengan penduduk sekitar.
“Suatu waktu kami pernah berkunjung ke daerah wisata favorit di Jawa Barat yaitu Green Canyon. Eh, orang yang menjadi tour guide disana malah bukanlah orang lokal. Ternyata, meskipun daerah tersebut ramai dikunjungi turis, belum tentu orang lokal yang mendapatkan hasilnya. Kebanyakan dari mereka hanya menjadi penonton saja,” ucap Ilma prihatin.

Tidak tinggal diam, Backpacker Indonesia pun menemui Karang Taruna di daerah tersebut. Mereka berbicara dan memberi pengertian tentang pentingnya membekali para pemuda dengan skill untuk menjadi tour guide kepada ketua Karang Taruna setempat.
“Akhirnya, mereka membuat sebuah paguyuban dan membuat pelatihan untuk menjadi tour guide lokal. Otomatis, para pemuda mendapat pekerjaan dan ekonomi mereka ikut terangkat. Kami bantu memberi informasi kepada backpacker lain jika ingin berkunjung ke Green Canyon untuk menghubungi Karang Taruna setempat. Setidaknya, itu bisa membantu kearifan penduduk lokal,” ucap Ilma.
Tegal Panjang [2013] bersama teman2 alumni ATMI soloGusungan Island
Well, tidak hanya itu saja kegiatan komunitas ini. Lebih dari 5 kali, ekspedisi, gathering dan kopi darat untuk bertukar cerita dan informasi telah dilakukan Backpacker Indonesia. Keseruan backpacking memang bagai nggak ada habisnya bersama komunitas yang telah punya social media dan E- Magazine sendiri ini.
“Uniknya, kalau backpacking bersama orang baru yang belum dikenal itu mau nggak mau, kita harus bisa percaya dengan mereka. Tapi, nggak jarang juga kami jadi teman dekat. Bahkan lebih dekat daripada teman yang kenal sudah lama. Padahal tadinya belum pernah kenal bahkan bertemu sama sekali. Aku pun juga jadi suka mengunjungi mereka di daerah asal beberapa kali,” ucap Ilma dalam wawancaranya dengan saya.
Papandayan [2013]BI go to Onrust Island [2009]
Dirinya yang pada awal suka bepergian sendiri pun malah jadi ketagihan bepergian ramai-ramai karena saat ini banyak sekali teman yang bisa diajak backpacking dari komunitas Backpacker Indonesia. Terlebih, jika pergi beramai-ramai, ongkos akan bisa lebih murah karena memakai sistem share cost. Apa kalian tertarik? Nah, sebelum memulai perjalanan cek dulu, dong, perlengkapan backpacking dengan penawaran menarik dari Blibli.com dengan klik disini!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY