Pada Minggu (6/4) kemarin, Tom Ibnur yang dikenal sebagai koreografer Indonesia yang karya-karya tariannya berbasis pada seni Minangkabau tampil menghibur dan mengajak para pengunjung Galeri Indonesia Kaya untuk mengenal Ranah Minang melalui gerakan tarian kreasinya dalam pertunjukan bertajuk Lidah Basilek, Piriang Badantiang.
TOM IBNUR DAN PENARI DI AWAL PERTUNJUKAN
Tampil di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, dirinya ‘unjuk gigi’ selama 45 menit. Para pengunjung Galeri Indonesia pun dihibur oleh Tari Piring yang ditampilkan secara gemulai oleh Tom Ibnur berserta 5 penari yang turut mendampingi.
TOM IBNUR DAN PARA PENARI
Bagi yang belum tau, Tari Piring bercerita tentang kehidupan rakyat agraris yang bekerja bercocok tanam, mengolah padi dan beras. Ide ini kemudian berkembang dan tumbuh, mengungkap makna-makna baru untuk menyampaikan pikiran dan ide-ide baru seni pertunjukan.
TARIAN DI AWAL PERTUNJUKAN
“Minangkabau dikenal dengan kekayaan ragam kulinernya yang menggoyang lidah dan tarian yang indah dan kaya akan filosofi. Tom Ibnur menggabungkan keduanya dalam satu pertunjukan kreasi yang indah namun masih berpegang pada pakem tradisi masyarakat Minang. Kreasi baru ini pastinya menjadi tontonan yang menarik bagi para pengunjung Galeri Indonesia Kaya dan patut untuk kita banggakan dan apresiasi,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Lidah Basilek, Piriang Badantiang yang artinya lidah bersilat, piring berdenting mengambil inspirasi dari dua hal yang terkait seni kuliner dan seni pertunjukan. Ketika lidah bersilat menikmati kuliner yang dihidangkan, piring pun berdenting.
TOM IBNUR MEMECAHKAN PIRING
Bunyi yang dihasilkan ini kemudian dikreasikan dalam Tari Piring oleh Tom Ibnur. Beberapa karya seniman tari Minangkabau ternama dan sesuai dengan ide serta nostalgia pun dipadu.
SEBELUM PIRING, DAUN PISANG MENJADI WADAH UNTUK MAKAN
Well, sebelum menggunakan piring, masyarakat biasa menggunakan daun pisang sebagai wadah untuk makan. Kemudian muncul tempurung kelapa, tembikar, piring kaleng, piring kaca dan piring porselen sebagai penggantinya. Daun pisang menampilkan seni membungkus, tempurung menghasilkan bunyi sekaligus alat untuk menari, dan piring porselen menggantikannya seperti yang kita lihat saat ini.
PEMUSIK MEMAINKAN MUSIK DARI PIRING
“Piring yang menjadi salah satu lambang kemakmuran, kemudian juga menjadi simbol kekuatan dan kepiawaian. Dari wadah yang biasa digunakan untuk makan ini, bisa dihasilkan beragam bunyi yang menjadi musik latar dalam menampilkan suatu seni pertunjukan dan menunjukkan betapa kayanya budaya Indonesia. Kebanggaan akan kekayaan dan keunikan budaya ini yang ingin saya
bagi dengan para pengunjung Galeri Indonesia Kaya,” ujar Tom Ibnur.

Disiplin tari Tom Ibnur bermula dari seni tari Minangkabau dan Melayu, khususnya Zapin. Seiring berjalannya waktu, kamus tarinya berkembang mulai dari kekayaan tari dan budaya Nusantara menuju pada kreasi baru dan kontemporer. Sebagai seniman, ia juga mendalami desain mode, modelling serta manajemen kesenian.

Nggak hanya itu, dia merupakan penggerak dan konsultan Revitalisasi Seni Pertunjukan di berbagai daerah di Indonesia. Termasuk, Direktur Langkan Budaya Taratak (Taratak Cultural Centre) di Jambi, Direktur Jambi Arts Festival, Dewan Artistik Art Summit Indonesia, Direktur Artistik Liga Tari Krida Budaya Universitas Indonesia di Jakarta, Direktur Artistik Studio One Fashion & Modelling Jakarta.
PENARI MEMBAGIKAN MAKANAN KHAS MINANG KEPADA PENONTON
Pengajar Opera Jelajah Anak Indonesia (OJAI) di Jakarta, Dewan Artistik Pasar Tari Kontemporer dan Temu Zapin Indonesia di Pekanbaru Riau, Dewan Pendiri Indonesian Dance Festival, Ketua Zapin Centre Indonesia, Konsultan Festival Zapin Nusantara di Johor Baru Malaysia, Konsultan Seni Pertunjukan Melayu dan Zapin D’Muara Festival di Singapura, serta Anggota Triangle Arts Program bidang Arts Management untuk Amerika-Jepang-Indonesia. Wew!


NO COMMENTS

LEAVE A REPLY