Industri musik Indonesia tak pernah berhenti jadi pembahasan. Sejak internet menyebar dan populer, produk rekaman konvensional seperti kaset dan cakram terancam keberadaannya. Puncaknya adalah saat beberapa toko musik gulung tikar.

Padahal, industri ini telah melalui rekam jejak sejarah yang sangat panjang. Tahun 1954, Suyoso Karsono mendirikan label rekaman pertama di Indonesia, Irama, dan menggunakan garasi rumahnya untuk merekam album beberapa grup musik. Industri yang dibangun orang yang akrab disapa Mas Yos itu kini tengah dilanda beberapa isu sehingga harus bertahan dengan segala cara.

irama-records via Gigsplay
Mas Yos, pendiri label Irama Record

Menurut Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) dikutip dari Music Biz Rolling Stone Indonesia, dua faktor utama yang membuat penjualan album fisikal turun adalah pembajakan musik yang terus meningkat dan perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan orang untuk menyebarluaskan serta mengunduh musik digital secara ilegal via internet.

Padahal, album fisikal adalah salah satu bentuk penghargaan bagi musisi yang telah berjuang menciptakan lagu. Akhirnya, sejak tahun 2000-an label rekaman berjuang untuk mencari cara lain agar tetap mendapat penghasilan. Label rekaman merupakan perusahaan yang khusus mengelola proses produksi, manufaktur, distribusi, promosi, dan menjaga hak cipta rekaman musik. Mereka merambah ke wilayah bisnis lain seperti merchandise dan tur artis.

Isu pembajakan ini pun diakui sangat sulit diberantas oleh pihak perusahaan musik. Gumilang, Direktur Musica Studio’s mengatakan bahwa pembajakan tidak bisa dihapus seratus persen. Tak hanya album fisikal, pembajakan sudah berkembang jauh ke merchandise.

“Bahwasanya soal bajakan apalagi di negara seperti Indonesia, tidak mungkin dihapus serratus persen. Kita bajakannya besar sekali mau di fisikal, digital, merch-nya juga bajakan di mana-mana,” tuturnya pada BBF.

Isu ini juga diakui oleh Yonathan Nugroho, pendiri label Trinity Optima Production. Menurutnya, isu musik Indonesia sedang sangat berat, padahal musik adalah hal yang sangat digemari. Ia menyoroti keberadaan situs online yang menyediakan lagu secara ilegal sehingga minat orang untuk membeli musik fisik makin susah.

Label: Mata Rantai Industri Musik

Musica dan Trinity Optima merupakan dua perusahaan besar yang terus berusaha agar bisa menjadi wadah musisi Indonesia untuk berkarya dan mengembangkan karirnya di dunia musik. Sebagai bagian dari mata rantai industry musik, idealnya sebuah album rekaman tentunya akan terus mendistribusikan dan mempromosikan musisi agar lebih bisa dikenal masyarakat.

Musica, perusahaan musik yang telah berdiri sejak 1969 punya sejarah yang panjang dalam membentuk musisi Indonesia. Beberapa musisi yang telah dibesarkan oleh perusahaan ini adalah Titiek Puspa, Eka Sapta, Bing Slamet, dan A. Riyanto sewaktu masih bernama PT Metropolitan Studio. Perusahaan ini kemudian mengubah namanya menjadi Musica Studio’s, membesarkan Chrisye, Kahitna, dan sejumlah musisi lain.

Tahun 2005 merupakan masa perubahan bagi mereka. Musica mengubah konsep perusahaan, tidak hanya rekaman, tapi juga mengurus manajemen artis dan pemasarannya. Alasannya, tren musik akan berubah ke depannya. Salah satu bisnis yang diketahui akan terus berkembang adalah merchandise. Menurut Gumilang, merchandise seperti harta karun dan jadi bisnis yang sangat besar.

“Kita tahu rekaman kurang laku, tapi live laku atau lagunya dipakai untuk iklan. Karena kita kan perlu budget promosi, kalau ketergantungan di satu sisi susah, jadi susah bagi promosinya. Harus ada yang menunjang keartisannya ini,” papar Gumilang.

Senada dengan Musica, Trinity, label yang lebih muda juga terus berjuang mengikuti perubahan di peta besar industry musik. Perusahaan yang awalnya hanya jadi marketing service company ini akhirnya berubah jadi label agar bisa mengontrak dan memupuk artis, membuat artis dari tidak terkenal hingga terkenal pada tahun 2005.

Bentuk Fisik Didapatkan dengan Cara Digital

Perubahan besar dilakukan Musica dan Trinity tahun ini. Mereka akhirnya menjual kepingan cakram dan merchandise para musisi yang dinaungi di toko digital. Yonathan, yang akrab disapa Yo ini menyatakan industri musik juga harus turut serta dalam perubahan.

Blibli x Musica Trinity (3)

Gumilang juga mengakui hal tersebut. Ia menyebutkan bahwa toko fisik punya keterbatasan, bukap pagi tutup malam. Sedangkan toko online bisa diakses kapan saja sehingga para fans bisa membeli album dan merchandise musisi kesayangannya kapan saja di mana saja.

Blibli.com adalah wadah yang dijadikan dua label ini sebagai sarana perubahan. Kini, semua album dan merchandise keluaran Musica dan Trinity bisa didapatkan di salah satu toko milik Blibli.com. Yo menyatakan di masa kini, masih ada yang mau membeli berbagai produk fisik musisi kesayangan.

Blibli x Musica Trinity Anchor Store
Blibli.com jadi solusi agar produk fisik orisinal musisi Indonesia bisa didapatkan dengan cara yang lebih mudah.

“Tujuan kita bekerjasama itu untuk menjemput bola konsumen atau fans artis sehingga bisa memiliki CD fisik artis kesayangannya. Sebenernya kita jual nggak cuma CD, tapi juga merchandise. Jadi sudah jadi satu kesatuan ya,” jelasnya.

Perubahan demi perubahan mereka lakukan. Tujuannya satu: tetap jaya walau berganti era. Musik adalah bahasa universal yang harus terus dijaga. Orang bisa bersatu salah satunya dengan medium musik. Maju terus industri musik Indonesia!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY