Tuan rumah susah menang? 

Dalam sejumlah obrolan ringan sambil ngopi di BCA Indonesia Open 2014, ada yang menyeletuk kalau, “Hanya satu juara asal Indonesia di Indonesia Open Super Series”. Mitos ini terlontar karena praktis pasca 2008, pemain asal Indonesia hanya meraih satu gelar di kejuaraan Super Series ini. Seperti terbukti di Djarum Indonesia Open 2012 hanya ada Simon Santoso sebagai pemenang tunggal putra, dan Ahsan/Hendra sebagai pemenang ganda putra Djarum Indonesia Open 2013.

Cikal bakal Indonesia Open Super Series berawal dari kejuaraan tahunan Indonesia Terbuka yang diadakan pertama kali pada tahun 1982.  Icuk Sugiarto dan Verawaty Fajrin masing-masing sebagai pebulutangkis tunggal putra dan putri peraih medali emas pada kejuaraan perdana tersebut.

Di tahun 1983 adalah masa keemasan Indonesia ketika terjadi “All Indonesia Winner” di kejuaraan Indonesia Terbuka dengan para juaranya yaitu Liem Swie King (tunggal putra), Ivana Lie (tunggal putri), Rudy Heryanto/Hariamanto Kartono (ganda putra), Ruth Damayanti/Maria Fransisca (ganda putri), Christian Hadinata/Ivana Lie (ganda campuran)

Adapula mitos siklus 10 tahunan, karena dari statistik gelar juara Indonesia Open sejak 1983, tuan rumah meraih gelar juara dua tahun berturut-turut adalah sebagai berikut:

1983 & 1984: Christian Hadinata/Ivana Lie (ganda campuran)

1993 & 1994 : Ricky Soebagja/Rexy Mainaky (ganda putra) dan Lili Tampi/Finarsih (ganda putri)

2003 & 2004 : Taufik Hidayat (tunggal putra)

2013 : Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (ganda putra)

Tapi tahun 2014 ternyata Ahsan/Hendra berada di runner up BCA Indonesia Open 2014.

Mitos hanyalah mitos. Ini cuma kutak-katik permainan angka, kenyataannya shuttle cock memang bulu yang perlu ditepok dengan semangat , stamina dan taktik.

IMG_5103

Skor Ganda

Masih soal angka, ada dua skor ganda tercipta saat pertandingan final BIOSSP  2014. Pada nomor tunggal putri pebulutangkis putri nomor satu dunia, Li Xuerui, mengalahkan pebulutangkis asal Thailand Ratchanok Intanon dalam dua set angka yang sama 21-13, 21-13.

Skor kemenangan yang sama juga terjadi pada laga final tunggal putra Kenichi Tago pemain badminton asal Jepang dikalahkan dalam dua set skor yang sama 18-21, 18-21 oleh pebulutangkis Denmark Jan O Jorgensen.

 

Antiklimaks

Pasangan ganda putri Tian Qing/ Zhao Yunlei (Cina) menang WO atas rekan senegara Ma Jin/Tang Yuanting  yang IMG_4753mengundurkan diri karena cedera. Pengumuman juara tanpa ada jalannya pertandingan rasanya seperti quantum leap melewati satu sesi pertandingan, yang terasa bagai antiklimaks, suatu pernyataan sekaligus tanya, “Hah, udahan? Gitu aja?!” Meskipun mungkin tidak masalah bagi keduanya karena rekan satu negara.

(*)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY