Ganda putra Ahsan/Hendra saat pertandingan final BCA Indonesia Open 2014 (foto by: Kadek Nicky)
Ganda putra Ahsan/Hendra saat pertandingan final BCA Indonesia Open 2014 (foto by: Kadek Nicky)

BCA Indonesia Open Super Series Premier 2014 (BIOSSP 2014) baru berlalu, meninggalkan sedikit kesedihan ketika tuan rumah gagal menempatkan juara. Ganda putra nomor satu dunia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan akhirnya harus puas menjadi runner up, ketika di partai final harus mengakui keunggulan pasangan Korea Lee Young Dae/Yoo Yeong Seong untuk yang kelima kalinya.

Gelar ganda putri dan ganda campuran diraih oleh pebulutangkis Cina. Pada nomor tunggal putri pebulutangkis putri nomor satu dunia, Li Xuerui, mengalahkan pebulutangkis asal Thailand Ratchanok Intanon dengan skor 21-13, 21-13. Sedangkan ganda putri dimenangkan oleh Tian Qing/Zhao Yunlei mengalahkan rekan senegara Ma Jin/Tang Yuanting. Sementara dua gelar lainnya, tunggal putra dan ganda campuran, berhasil diraih oleh Denmark.

Tunggal putra Denmark Jan O Jorgensen memenangkan babak final turnamen Indonesia Open 2014 setelah mengalahkan pebulutangkis Jepang Kenichi Tago dalam dua set 21-18, 21-18. Sementara  Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen berhasil mengalahkan ganda Cina Xu Chen/Ma Jin melalui rubber set 18-21, 21-16, 21-14.

IMG_4467

 

Tapi dalam tiga ulasan tulisan ini, penulis bukan mau berbagi tulisan “berat” tentang analisa kekuatan pemain badminton negara lain atau kekecewaan pengurus olahraga nasional. Saya mau menyajikan catatan-catatan kecil selama peliputan, yang sekiranya unik dan cukup menarik seputar BCA Indonesia Open 2014 untuk dibagi kepada para Blibli Friends.

 

Denmark Pertama Kali Dua Gelar Sekaligus

 

Kemenangan Denmark di nomor tunggal putra dan ganda campuran dalam turnamen Indonesia Open 2014 ini merupakan kali pertama negara Skandinavia ini menang dua nomor sekaligus sepanjang Kejuaraan Indonesia Terbuka sejak berlangsung 1982 hingga 2014.

IMG_4347

 

Jan O Jorgensen juga tercatat menjadi tunggal putra Denmark pertama maupun Eropa yang pernah memenangkan gelar di Indonesia Open 2014. Dengan penampilan mencolok mata, kaus oranye dan kaus kaki hitam saat laga final dan rambut kuncir yang jarang dimiliki pemain putra badminton umumnya, atlet berusia 26 tahun ini selama di Istora Senayan menunjukkan permainan menyerang dengan pukulan-pukulan keras langsung menghujam zona lawan.

Praktis, Jorgensen tak pernah kehilangan satu set pun semenjak babak 32 besar hingga babak final Indonesia Open 2014! Hal ini diakui pula oleh Kenichi Tago. “Strategi dan daya tahan tubuh Jorgensen memang prima,” ujarnya. Jorgensen saat mencapai skor 21 di final dan menekuk Tago, menunjukkan raut muka tak percaya dan terduduk di pinggir lapangan. “Saya tidak percaya berhasil menjadi juara. Saya rasa saya membuat sejarah hari ini,” katanya.

Jan O. Jorgensen

 

Dengan kemenangan di Indonesia Open 2014, ini merupakan gelar super series pertamanya di Benua Asia.

Negara yang bakal menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2014 pada Agustus mendatang seolah sedang menunjukkan eksistensi tak pernah putus dari gelar “the great Dane” di lapangan badminton setelah era Svend Pri di era 60-an hingga 70-an dan merupakan rival utama Rudi Hartono kala itu. Di era selanjutnya ada nama Morten Frost Hansen, Poul Erik Hoyer Larsen yang menjadi satu-satunya wakil non Asia yang meraih medali emas Olimpiade 1996, hingga Peter Rasmussen, Kenneth Jonassen dan Peter Gade.

Kemenangan Denmark di Indonesia Terbuka sejak 1982-2014 yaitu tahun 1991 menang di ganda campuran, 1999 di ganda putri, dan 2000 di tunggal putri, dan 2014 di tunggal putra dan ganda campuran.

 

Peserta Paling Muda

Sebagai penggemar film horror, mendengar nama “Thailand” otak langsung melayang ke Alone, 4BIA, The Eye dan sederet judul film negeri gajah putih yang berhasil mendirikan bulu kuduk.

Ratchanok_Thai
Ratchanok Intanon

Dan seperti efek kejut di film-film thriller dan horror, Thailand menghadirkan kejutan di BCA Indonesia Open Superseries Premier 2014 bukan dari filmnya, tapi dara 19 tahun Ratchanok Intanon  sebagai pebulutangkis tunggal putri pertama Thailand yang melesat hingga ke final.

Meskipun di final kandas dari pebulutangkis asal Cina, Li Xuerui yang berada di ranking pertama dunia, tapi menilik usia yang baru 19 tahun, sepertinya rekam jejak Intanon bakal panjang di dunia bulutangkis.

Nama Thailand juga baru dua tahun belakangan ini mencorong di dunia bulutangkis dunia.  Sebelumnya Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam meraih juara ganda campuran di Indonesia Open 2012. Watch out, Indonesia!

(*)


NO COMMENTS

LEAVE A REPLY